Dimuat ku: barudaksunda | 27 Pébruari 2011

resensi buku

Kemana Arah Demokrasi Islam ?

Judul Buku                : Masa Depan Islam Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat

Penulis                       : John L. Esposito

Penerbit                    : Mizan

Tahun Terbit            : I / Desember 2010

Tebal Buku               : 343 Hal

Peresensi                  : Rikhsan Nurhadian S. )*

Tragedi 11 September 2001 silam telah menciptakan dampak buruk terhadap pandangan kepada dunia Islam. Peristiwa penyerangan terhadap World Trade Centre dan Pentagon telah mengubah dunia, penyerangan yang diklaim sebagai aksi terorisme itu telah mengubah abad kedua puluh satu menjadi sebuah dunia yang dinominasi perang. Amerika Serikat dengan lantang mengangkat senjata untuk menyatakan perang terhadap terorisme global. Pandangan teroris yang dialamatkan kepada kelompok Islam garis keras memperburuk hubungan antara Islam dengan barat, Islam dipaksa bertanggungjawab atas aksi terorisme ini. Mereka pun memperkuat citra Islam dan Muslim sebagai sebuah agama dan masyarakat yang harus ditakuti dan dilawan.

Standar ganda yang dipakai Amerika sangat merugikan dunia Islam. Dengan dalih sebagai polisi dunia untuk memberantas terorisme, mereka bertindang sewenang-wenang terhadap negara-negara mayoritas Muslim, ikut campur terhadap urusan politik dan kebijakan negara tersebut. Kelompok-kelompok Islam dicurigai sebagai kelompok garis keras yang rentan melancarkan aksi terorisme. Amerika telah menyebarkan virus Islamfobia dan menghapuskan citra Islam sebagai rahmatan lil`aalamin, mereka juga berusaha memisahkan Islam dari urusan politik pemerintahan negara-negara Islam. Demokrasi dijadikan sebagai alat untuk memisahkan Islam dari politik pemerintahan, walaupun mengagumi prinsip dan nilai-nilai demokrasi Amerika, mereka yakni negara-negara Islam tidak melihat nilai-nilai itu diterapkan dalam perlakuan terhadap Muslim. Kesenjangan antara kebijakan AS dengan prinsip AS memperkuat tuduhan bahwa Amerika Serikat telah menganut standar ganda dalam mendukung demokrasi dan hak asasi manusia.

Bagaimana Demokrasi diterapkan di dunia Islam?

Sebelum mengetahui kemana arah demokrasi Islam sebaiknya mengetahui terlebih dahulu bagaimana demokrasi diterapkan di dalam dunia Islam. Tidak perlu mengenal dekat sejarah politik Arab atau Muslim untuk mengetahui bahwa banyak negara Muslim sekarang ini tidak demokratis. Rezim otoriter lebih mengandalkan militer dan pasukan keamanan dari pada kotak suara untuk memastikan kelangsungan pemerintahan mereka. Banyak yang memperkukuh budaya dan nilai-nilai otoriter. Partai politik, perserikatan, dan asosiasi profesional harus mendapatkan persetujuan pemerintah yang berkuasa, pemerintah bisa mengatur, menekan, atau melarang begitu saja. Pemerintah mengawasi institusi pendidikan dan keagamaan, dari kurikulum dan lapangan pekerjaan hingga pidato dan khutbah. Perbedaan pendapat dapat berujungan pada penangkapan, hukuman penjara dan penyiksaan.

Pada tahun belakangan ini sejumlah negara mayoritas Muslim telah memperkenalkan pemilihan umum dengan hati-hati dan terkadang setengah hati, kaum Muslim telah jelas menunjukan keinginannya akan partisipasi politik dan pertanggungjawaban pemerintah yang lebih besar. Turki, Irak, Bangladesh, Senegal, Nigeria, Mali, Malaysia, Indonesia, dan Pakistan memiliki pemerintahan yang terpilih secara demokrastis. Negara-negara lainnya melaksanakan pemilihan umun terbatas atau “dengan panduan” pemerintah. Iran menerapkan pemilihan umum pada tingkat nasional dan daerah, walaupun pemuka agama senior memengaruhi dan dapat membatalkan para calon. Pada sekarang ini, pemilihan umum telah diperkenalkan di negara-negara seperti Yordania, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi, walaupun dalam praktiknya pemerintah masih memegang sebagian besar kekuasaan. Akan tetapi diluar itu, Islam sudah mencoba menerapkan nilai-nilai demokratis di dalam sikap politiknya.

Sejumlah besar Muslim di seluruh dunia tidak puas dengan keadaan sekarang dan jelas menginginkan demokratisasi lebih luas dan lebih baik. Ketika ditanya apa yang paling mereka kagumi dari Barat, tanggapan terbanyak dari mayoritas umum (mereka yang menganggap serangan 9/11 tidak dapat dibenarkan) maupun radikal potitis (mereka yang mungkin tidak termasuk garis keras, tetapi menganggap serangan 9/11 dapat dibenarkan) antara lain adalah aturan hukum Barat, sistem politik yang adil, demokrasi, sikap menghormati hak asasi manusia, kebebasn berpendapt, dan kesetaraan gender. Akan tetapi, Kekaguman pada nilai demokratis Barat bukan berarti dukungan terhadap model pemerintahan sekular Barat. Kebanyakan Muslim berpendapat agama dan nilai-nilai mereka sangat penting bagi kemajuan mereka. Dengan demikian, walau sebagian reformis menolak pertalian agama dengan negara dan mendesak dibentuknya negara sekuler, mayoritas Muslim menyatakan keinginan mereka agar Syariat, dasar hukum agama dijadikan “sebuah” sumber hukum.

Demokrasi berdasarkan nilai-nilai Islam

John L. Esposito telah menerangkan bahwa Islam sebenarnya telah melakukan pembaharuan di berbagai bidang termasuk dalam ranah politik bermasyarakat, mereka lebih inklusif untuk menerima hal-hal baru demi perkembangannya. Namun, nilai-nilai keagamaan tetap tidak dapat dihilangkan. Penerapan demokrasi di dalam pemerintahan negara Islam tetap harus didasari oleh nilai-nilai ke-Islaman yang selama ini menjadi hukum syariat kehidupan bermasyarakatnya.

Dia pun mengungkapkan bahwa, pada masa mendatang, agama tetap akan menjadi kekuatan politik dan sosial signifikan untuk pembaruan, karena mayoritas Muslim dewasa ini menekankan pentingnya peran agama bagi kemajuan masyarakat mereka. Dengan demikian, agama dapat dipandang sebagai bagian dari masalah jika kita berfokus pada pinggiran ekstrimis, atau sebagai bagian dari solusi, melekatkan pada diri mayoritas Muslim nilai-nilai hak asasi manusia, saling menghormati, dan kerja sama antar komunitas beriman yang memiliki tujuan yang sama. (hal 294)

Namun, penerapan demokrasi berdasarkan nilai-nilai Islam tidaklah semudah membicarakannya. Gerakan Militan serata sebagian Muslim Konservatif menolak demokrasi dan menganggapnya tidak sesuai dengan Islam dan tradisinya. Mereka berpendapat demokrasi adalah tradisi Barat yang ingin memecah belah masyarakat Muslim, dan bahwa nilai-nilai demokrasi yakni kedaulatan populer, hak-hak individu, dan kebebasan, berlawanan dengan nilai-nilai Islam dan merupakan ancaman bagi masyarakat.

Oleh karena itu, penerapan demokrasi haruslah benar-benar menjadi solusi bagi sistem politik dan sosial negara Islam. Pertentangan antara nilai-nilai demokratis dengan nilai-nilai Islam menjadi sebuah fokus pemasalahan yang harus dipecahkan terutama bagi kalangan pembaru Islam, agar terciptanya sebuah demokrasi-religi dimana demokrasi sebagai sistem dan nilai-nilai Islam sebagai landasannya.

Permasalahan demokrasi dengan dunia Islam ini berkaitan dengan permasalahan hubungan antara Barat dan Islam. Presfektif yang bertentangan dan berbeda antara Barat dan Islam haruslah mampu dicarikan solusinya, didalam buku ini pengarang yaitu John L. Esposito telah berusaha menguraikan dan menjelaskan presfektif-presfektif yang bertentangan ini dengan menerangkan bagaimana pandangan Islam terhadap Barat begitupun sebaliknya. Buku ini sangatlah penting sebagai referensi kita untuk memahami demokrasi yang diusung oleh barat diterapkan di dunia Islam dewasa ini. Mengutip pernyataan Karen Amstrong sebagaimana pengantar buku ini ia mengatakan “ Buku ini penting. Kami yang sejak peristiwa keji 11 September 2001 berada di garda depan dalam upaya menjelaskan Islam kepada dunia Barat, segera menyadari bahwa tugas tersebut tidaklah mudah.” Jelaslah, bahwa memperbaiki hubungan atara Islam dan Barat tidaklah begitu pulan dalam penerapan sistem demokrasi di dunia Islam.

Disini peresensi mencoba memberikan gambaran sebuah referensi untuk memahami hubungan Islam dan Barat dewasa ini dan untuk masa yang akan datang, sebuah buku karangan John L. Esposito seorang Profesor Hubungan Internasional dan Kajian Islam yang berjudul “Masa Depan Islam antara tantangan kemajemukan dan benturan dengan barat” menjadi referensi yang layak kita baca untuk memahami arah dan masa depan Islam.


Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

Katagori

%d bloggers like this: