Dimuat ku: barudaksunda | 27 Pébruari 2011

Kauman Undercover

Terbitnya Matahari-matahari dari Kauman

Judul buku       : KAUMAN ( Muhammadiyah Undercover)

Pengarang        : Sidik Jatmaka dan M. Zahrul Anam

Tanggal terbit   : 2010

Penerbit           : Gelanggang

Tebal buku      : 130 hal; 12 x 20 cm

Peresensi          : Rikhsan Nurhadian Suhandi

 

Begitu banyak lokasi atau tempat yang memiliki nilai historis di daerah istimewa Yogyakarta, dimulai dari tempat-tempat dimana terletaknya situs-situs purbakala warisan peradaban dan kebudayaan kerajaan Mataram serta Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sampai kepada tempat bukti sejarah terciptanya negara kesatuan republik indonesia. Sebut saja Kraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Gedung Agung, Taman sari, malioboro, monjali dan lain-lain. Tempat-tempat seperti inilah yang menjadi daya tarik yang eksotis dari kota yogyakarta, disamping itu masih terjaganya dan terpeliharanya kebudayaan serta adat memberikan nilai positif bagi perkembangan Yogyakarta, terutama dari bidang kebudayaan dan pariwisata. Dari hal ini pula yang menjadikan Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya dengan brand “Jogja (Never Ending Asia)”.

Ada sebuah lokasi yang mungkin sering orang lupakan “jasanya” bagi perkembangan kota Yogyakarta khususnya. Kauman adalah tempat tersebut, dari tata letaknya Kauman Yogyakarta tidak berbeda dengan letak kauman di beberapa kota atau kabupaten di pulau jawa. Kawasan perkampungan yang terletak di belakang masjid agung kota atau kabupaten di pulai jawa sudah lumrah dengan dinamakan daerah Kauman atau Kaum.

Begitu pula dengan Kauman Yogyakarta, sebuah kawasan perkampungan yang terletak di barat alun-alun utara Keraton Kesultanan Yogyakarta, tepatnya di belakang Masjid Ghede (agung) Yogyakarta. Terletak di kelurahan Ngupasan, kecamatan Gondomanan, kota Yogyakarta; sekitar 500 meter ke arah selatan dari ujung kawasan Malioboro dan 200 meter dari pagelaran utara keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini merupakan kampung yang begitu masyhur. Karena di sinilah Muhammadiyah lahir pada 8 Dzulhijjah 1330, bertepatan dengan tanggal 18 November 1912, oleh seorang pegawai Kesultanan Keraton Yogyakarta beranama Muhammad Darwis. Tokoh ini di kemudian hari dikenal dengan sebutan K.H. Ahmad Dahlan. (hal 13)

Lazimnya sebuah daerah dengan nama kauman atau kaum, Kauman yogyakarta memiliki fungsi sebagai tempat bermukimnya para alim ulama  yang bertugas untuk memakmurkan masjid, abdi dalem keraton yang bertugas mengurusi  keagamaan di lingkungan keraton pula ditempatkan disini. Misalnya, abdi dalem Suronoto yang bertugas mengurus kegiatan keagamaan di lingkungan keraton, abdi dalem K.H. Aji Selusin bertugas mewakili raja untuk berhaji, abdi dalem Ketib sejumlah 9 orang bertugas memberikan khotbah di masjid, abdi dalem berjamaah terdiri 40 orang bertugas menjadi makmum shalat jumat, abdi dalem Mudin bertugas melantunkan azan, dan abdi dalem Merbut mengurusi rumah tangga mesjid. Semua abdi dalem yang terkait dengan kegiatan keagamaan tersebut, digolongkan menjadi abdi dalem Pamethakan atau putih. (hal 23)

Kauman Raya dan 7 K Pengembangan Islam di Yogyakarta

Keidentikan wilayah keislaman tidak serta merta hanya sebatas kauman saja, namun berkembang meluas hingga berbagai kawasan di sekitarnya. Muncul pula nama-nama kampung yang merupakan pusat pengembangan agama Islam. Misalnya, Krapyak yang terletak di utara benteng pertahanan Panggung Krapyak dan sebelah barat (tempat) para prajurit Jogokaryo (Jogokaryan). Karang (tanah lapang yang kemudian berubah menjadi kampung) Kaji (tempat tinggal para haji) kemudian dikenal sebagai Karangkajen. Hadirnya Kadipaten Paku Alaman sebagai pusat pemerintahan, pada akhirnya juga menghadirkan kampung Kauman Pakualaman. (hal 26)

Lokasi-lokasi seperti inilah yang menjadi sebab terbentuknya pusat pengembangan keagamaan di Yogyakarta yang dikenal dengan 7 K Pusat Pengembangan Islam, Yaitu; Kauman, Kota Ghede, Kerto-Kedhaton-Kanggotan (Pleret), Kraton, Krapyak, Karangkajen, dan Kauman PA.

Dari Kauman Untuk Indonesia

Sejarah mencatat banyak tokoh-tokoh penting baik lokal maupun nasional yang terlahir dari kawasan daerah ini. Dalam buku ini, sedikit banyaknya memaparkan tokoh-tokoh tersebut terutama yang memiliki peran penting dalam perkembangan organisasi keagaman Muhammadiyah atau Persyarikatan Muhammadiyah. Logo Muhammadiyah yang diambil dari simbol matahari terbit menjadi inspirasi penyematan sebutan bagi para tokoh-tokohnya yang pernah mengabdikan hidupnya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan sebutan Matahari-matahari Muhammadiyah.

Putra-putri Kauman yang berjasa menjadi Matahari Muhammadiyah diantaranya yaitu:

Beberapa Ketua Umum PP. Muhammadiyah:

1.      K.H. Ahmad Dahlan

2.      K.H. Ibrahim

3.      Ki Bagoes Hadikoesoemo

4.      K.H. Azhar Basyir

Beberapa Tokoh Bangsa dari Kauman:

1.      Nyai Ahmad Dahlan

2.      Djarnawi Hadikusumo

Bagi para tokoh yang banyak berperan dalam mengembangkan Persyarikatan Muhammadiyah tetapi tidak sampai level Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, barangkali bisa menyebutnya dengan Meteor-meteor Muhammadiyah.

Para Meteor Muhammadiyah dari Kauman, diantaranya:

1.      Muhammad Diponegoro

2.      H. Dauzan Farook

3.      Para Pejuang “Syuhada Fi Sabilillah”

4.      Para Profesor dari Kauman, diantaranya:

1)      Prof. K.H. Farid Ma`ruf (alm)

2)      Prof. Dr. Tujimah

3)      Prof. Dra. Hj. Siti Baroroh Baried (almh)

4)      Prof. Dr. H. Ahmad Sumitro

5)      Prof. Dr. Hj. Siti Dawiesah Ismadi

6)      Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Suratno

7)      Prof. H. Zamroni, Ph.D

Bahkan, sejumlah tokoh Islam Indonesia seperti mantan ketua umum PBNU dan juga mantan Presiden Indonesia K.H. Abdurahman Wahid dan mantan Ketua PP. Muhammadiyah yang juga pernah menjadi Ketua MPR RI, Prof. Dr. Amien Rais juga pernah belajar di Kauman.

Dari tokoh-tokoh inilah sejarah tercipta, dari sebuah kawasan perkampungan kecil ini yang melahirkan tokoh seperti K.H. Ahmad Dahlan yang mampu mengubah Indonesia dengan menggoreskan tinta emas sejarah perkembangan Republik ini. Lahirnya Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kauman, memiliki pengaruh kuat dalam perkembanga agama Islam di Indonesia. Disamping itu jasa Muhammadiyah tidak sebatas dalam pengembangan keagamaan saja, namun masalah sosial dan pendidikan juga menjadi prioritas dalam pergerakaannya.

Dari sebuah buku kecil yang berjudul KAUMAN (Muhammadiyah Undercover) ini kita bisa mengetahui begitu berjasanya Kauman bagi Indonesia. Tidak hanya itu, kita bisa mendapatkan informasi tentang fakta-fakta yang berkaitan dengan daerah Kauman, sepert: adat, tradisi, sosial masyarakat, cerita dan senyum tawa. Keadaan di Kauman ini mencerminkan sosial masyarakat kota Yogyakarta yang masih pure terhadap tradisi sosial masyarakatnya.

Dikemas dengan lebih menarik dengan gaya bahasa yang akrab diselingi dengan gambar-gambar jenaka mengilustrasikan kondisi masyarakat pada waktu itu, penulis Dr. Sidik Jatmika, M.Si, seorang yang jago dalam lawakan jenaka dan M. Zahrul Anam, S.Ag, M.Si mencoba memberikan informasi dengan suguhan yang familiar. Saya berkesimpulan, bahwa buku ini wajib dibaca. Selain memberikan beberapa data dan fakta seputar kehidupan Yogyakarta khususnya kawasan Kauman, buku ini pula memberikan hiburan yang menarik dengan ditulisnya guyonan atau tawa jenaka ala Kauman. Tak berlebihan sekiranya buku ini menjadi buku wajib sebagai pegangan bagi warga Muhammadiyah.


Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

Katagori

%d bloggers like this: