Dimuat ku: barudaksunda | 23 Maret 2010

resensi buku

RESENSI MELEPASKAN PENDIDIKAN DARI MASALAH

Judul Buku : Menuju Masyarakat Belajar : Pendidikan Dalam Arus Perubahan

Penulis : Drs. H. Isjoni, M. Si., Ph. D

Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Tebal : 173 hlm Tahun : September 2009

Peresensi : Rikhsan Nurhadian Suhandi

Memang tidak dapat kita hindari bahwa masalah pasti akan selalu ada dan menjadi kendala yang harus dicari dan temukan pemecahan atau jalan keluarnya, begitu pula didalam dumia pendidikan. Masalah-masalah timbul dan menjadi penghalang di dalam kemajuan serta perkembangan dunia pendidikan. Polemic pendidikan yang disebabkan oleh terkendalanya dana dari pemerintah pusat menjadi faktor utama dalam masalah pendidikan. Padahal undang-undang yang mengatur sudah menetapkan angka minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk dialokasikan di sector pendidikan. Maka dari itu persoalan pendidikan sangat tergantung kepada alokasi dana dari pemerintah. Di luar negeri anggaran untuk dunia pendidikan sudah mencapai sebesar 40 persen itupun di luar gaji pegawai dan pendidikan kedinasan. Perbandingan ini menunjukan begitu kecilnya anggaran pendidikan kita, padahal pendidikan adalah sector yang harusnya mendapatakan perhatian lebih dari pemerintah yang sewajibnya memberikan porsi lebih dari pengalokasian anggaran Negara. Rendahnya alokasi dana memberikan imbas yang pelik kepada masyarakat, sebab biaya untuk pendidikan menjadi cukup mahal, akibat biaya pendidikan yang mahal masyarakat tidak mampu untuk membiayai pendidikan bagi anak-anaknya. Fenomena ini harus menjadi perhatian yang lebih serius dari pemerintah, karena hanya dengan memberikan alokasi dana yang cukuplah masalah-masalah di dalam pembiayaan pendidikan bisa terpecahkan, sebab dengan biaya yang memadai akan memberikan nilai positif bagi aspek-aspek lain di dalam dunia pendidikan seperti aspek sumber daya manusia (SDM). Indicator mutu suatu bangsa sangat ditentukan oleh SDM dari bangsa tersebut. Tentunya SDM sangat dipengaruhi oleh sejauh mana perkembangan pendidikan yang sudah dilakukan, faktor-faktor kebijaksanaan yang harus diutamakan dalam membantu peserta didik untuk dapat berkembang secara optimal yaitu: (1). Menyediakan guru yang professional, (2). Menyediakan fasilitas sekolah yang memadai, (3). Menyediakan media pembelajaran yang kaya (lengkap), (4). Evaluasi terus menerus, komprehensif dan obyektif, (5). Manejemen pendidikan yang demokratis dan semua stakeholders memberikan konstribusi di dalam kemajuan. Faktor-faktor inilah yang dalam pandangan penulis dapat mempengaruhi dapat tidaknya kita menjadikan sekolah sebagai pusat pembudayaan berbagai kemampuan dan nilai, etos kerja, disiplin, jujur dan cerdas serta bermoral. Faktor lain yang harus diperhatikan untuk melepaskan pendidikan dari berbagai masalah adalah pembudayaan kepribadian, yaitu menumbuhkan budaya pendidikan dimasing-mnasing individu serta kepribadian untuk terus belajar, meningkatkan produktivitas individu, dan menanamkan komitmen dalam mengembangkan dunia pendidikan. Mengenai faktor pembudayaan kepribadian, akan sedikit kita cermati dimana pendidikan secara pelaksanaannya ada tiga bentuk pendidikan yakni pendidikan formal, pendidikan informal, dan pendidikan non formal. Pendidikan formal lebih dikenal dengan pendidikan yang berlaku pada tingkat prasekolah, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pada pendidikan tinggi. Pendidikan informal lebih dikenal dengan pendidikan keluarga. Jenis pendidikan ini sangat beragam tergantung dari kondisi suatu keluarga. Pendidikan keluarga amat sangat dominan di dalam pembentukan karakter (kepribadian) seorang anak. Sedangkan pendidikan non formal adalah jenis pendidikan yang berlaku pada masyarakat luas, yang lebih dikenal dengan pendidikan luar sekolah. Jenis pendidikan ini lebih memberikan kepada keterampilan, kemahiran, dan kecakapan hidup seseorang. Menjadi pokok persoalan kita apa yang disebut dengan pendidikan informal atau disebut pendidikan keluarga. Pendidikan keluarga adalah tempat pertam di mana proses pendidikan berlangsung,. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan alami di mana seseorang anak mendapatkan pendidikan awal dari kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Di dalam pendidikan keluarga, benih pendidikan mulai tumbuh dalam lingkungan cinta kasih, tolong-menolong, dan saling memberi pengertian, pengetahuan, peringatan, bimbingan dan pengarahan secara timbal balik diantara suami istri dan antara orangtua kepada anak-anak. Di dalam kehidupan keluarga inilah terjadinya pembudayaan kepribadian bagi setiap individu. Dalam segi produktivitas individu pendidikan merupakan sarana paling strategis untuk meningkatkan kualitas manusia, artinya melalui pendidikan, kualitas manusian dapat ditingkatakan. Dengan kualitas yang meningkat akan berdampak terhadap produktivitas individu manusia.selanjutnya, jika secara individu produktivitas manusia meningkat, maka secara komunal produktivitas bangsa akan meningkat. Kesadaran terhadap pentingnya produktivitas individu terhadap kemajuan suatu bangsa serta kesadaran bahwa pendidikan merupakan penunjang meningkatnya produktivitas individu, maka hal ini bisa menjadikan salah satu solusi terlepasnya masalah di dalam dunia pendidikan. Menanamkan komitmen untuk mengembangkan pendidikan adalah faktor penting dalam dunia pendidikan. Sekedar untuk diketahui, dalam menilai kinerja pendidikan dapat dilihat dari dua indicator. Pertama, indicator makro seperti pencapaian HDI, pemilikan daya saing, kualitas pendidikan dan sebagainya. Kedua, indicator mikro seperti prestasi matematika, fisika, kemampuan membaca dan sebagainya. Dalam laporan UNDP (2004), Human Development Report 2004 ternyata Indonesia dengan indeks HDI sebesar 0,692 menduduki peringkat 111 dari 177 negara. Posisi ini menunjukan sejauh mana keberhasilan pembangunan manusia suatu Negara dari sisi pendidikan, ekonomi dan kesehatan dibanding Negara lain. Dalam hal ini posisi Indonesia ada di bawah Negara yang kurang dikenal masyarakat umumnya seperti Guinea Equatorial (109), Tanjung Verde (105), Belize (99), Maladewa (84), Antigua dan Barbuda (55). Posisi Indonesia juga di bawah Negara-negara tetangga umumnya seperti Filipina (83), Thailand (76), Malaysia (59), Brunei Daarussalam (33), Republik Korea (28), Singapura (25), Selandian Baru (18) dan Australia (3). Memperhatikan data di atas memang membuat kening kita berkerut. Namun kita tak lantas kecil hati. Kita meski berupaya untuk mencari jalan keluar terbaik. Upaya yang dilakukan diantaranya adalah mengkaji ulang tentang system pendidikan kita. Peningkatan alokasi dana pendidikan sangat perlu dilakukan. Komitmen semua pihak untuk meningkatkan mutu pendidikan mesti tertanam di sanubari masing-masing. Birokrat pendidikan mesti bekerja ikhlas dan punya program jelas. Komponen satuan pendidikan menjalankan tugas secara professional dan bertanggung jawab sehingga harapan pendidikan bermutu akan tercapai. Berbicara mengenai dunia pendidikan tidak akan terselesaikan begitu saja, karena pendidikan merupakan sesuatu yang urgens bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Di dalam buku ini, penulis yaitu Drs. H. Isjoni, M. Si., Ph. D seorang intelektual serta pengamat dan ahli pendidikan juga pemeroleh rekor MURI sebagai Penulis Buku Pendidikan Produktif dalam Jangka Waktu Lima Tahun (2002-2007) ini mencoba kembali memaparkan permasalah pendidikan dalam sebuah buku yang berjudul “Menuju Masyarakat Belajar : Pendidikan dalam Arus Perubahan”. Buku ini memang tidak terlalu kumplit memaparkan permasalah pendidikan di Indonesia dewasa ini, akan tetapi dengan membaca buku ini kita cukup mengerti tentang masalah-masalah pendidikan, serta merekomendasikan bahwa keterpurukan pendidikan bangsa ini mesti dicarikan solusinya.


Responses

  1. menurut peresensi, bagaimana seharusnya pendidikan di Indonesia ini keluar dari keterpurukan?

    • menurut saya, seharusnya pendidikan di Indonesia membuat paradigma baru tentang perlunya merubah budaya pendidikan kita ini, karena budaya pendidikan adalah suatu hal yang tidak bisa di hilangkan demi terciptanya suatu tatanan baru dunia pendidikan…. berubahnya sistem pendidikan hanya mampu sedikit berperan walaupun sistem juga adalah faktor utama perkembangan pendidikan, namun apa guna sistem yang baik dan tepat tanpa didasari asumsi bahwa paradigma pendidikan bukan hanya sebatas transfer ilmu saja, akan tetapi pendidikan dijadikan sebuah budaya yang melekat di masyarakat….


Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

Katagori

%d bloggers like this: