Dimuat ku: barudaksunda | 20 Maret 2010

artikel resensi

RESENSI

PERGESERAN IDENTITAS KOTA YOGYAKARTA DAN SOLO

Judul Buku                  : Kota-kota di Jawa: Identitas, Gaya Hidup dan Permasalah Sosial.

Penyunting                  : Sri Margana dan M. Nursam

Penerbit                       : Ombak, Yogyakarta

Tebal                           : 341 hlm + x ; 16 x 24

Tahun                          : 2010

Peresensi                     : Rikhsan Nurhadian S.

Berawal dari kumpulan artikel-artikel karya dari murid dan kolega Prof. Djoko Suryo, Guru Besar Ilmu Sejarah pada Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM, yang dipersembahkan kepada beliau sebagai hadiah ultah yang ke-70 pada 20 desember 2009. Sri Margana dan M. Nursam sebagai editor mencoba menyajikan sebuah kumpulan artikel mengenai sejarah pekembangan serta permasalahan kota-kota di jawa yang dirangkum dalam sebuah buku yang berjudul “Kota-kota Di Jawa : Identitas, Gaya Hidup dan Permasalahan Sosial”.

Sejarah seringkali kita lupakan, seakan sejarah hanyalah sesuatu yang berlalu saja padahal bila kita memperhatikan nilai dan kandungan sejarah semua itu bisa kita jadikan sebuah cerminan serta pelajaran. Begitu pula sejarah mengenai perkembangan kota-kota di Indonesia khususnya di Jawa, perkembangan inilah yang menjadi sorotan dimana disini terjadinya pergeseran budaya dari sebuah kota. Proses terjadinya pergeseran budaya yang berdampak terhadap perubahan identitas kota menuju identitas kota baru. Perubahan yang dihasilkan dari aplikasi modernisasi yang mulai bergulir sejak awal abad ke-20 dan perubahan pandangan masyarakat itu sendiri.

Modernisasi berdampak pada perubahan masyarakat yang menyeluruh, hampir semua aspek kehidupan mulai dari aspek politik, ekonomi hingga budaya. Keadaan ini dapat dirasakan di sejumlah kota yana notabene kota tradisional atau kota budaya, seperti yang terjadi di Yogyakarta dan Solo.

Yogyakarta secara antropologi adalah kota budaya yang lekat dengan adat istiadat dan tradisi. Namun, identitas sebagai kota budaya atau kota tradisional tidak mampu menahan arus modernisasi dan perubahan yang masuk ke kota tersebut, ini menjadi brand atau slogan kota budaya seakan tidak berarti karena terjadi transisi dari kota tradisional menuju kota modern. Perubahan kebudayaan pun dapat kita lihat dari bebagai segi diantaranya berubahnya tradisi busana masyarakat seperti yang terjadi dikalangan kaum perempuan jawa. Penggunaan kain kebaya sudah mulai ditinggalkan dan beralih pada busana-busana yang lebih modern seperti penggunaan rok, pakaian berkembang ke arah etika dan estetika sehingga kemudian muncul istilah dress code untuk acara-acara tertentu, seperti halnya kain kebaya dipakai hanya untuk acara atau ceremony tertentu. Semua ini terpengaruh oleh budaya barat (Eropa) dalam hal ini Negara Belanda, baju model barat yang pada awalnya hanya dipakai oleh kaum perempuan Eropa (Belanda) kemudian semakin merambah masyarakat perempuan di Yogyakarta.

Perubahan yang terjadi bukan hanya sebatas itu saja, berbagai perusahaan dan industry bermunculan, pembukaan tempat pemukiman, pembangunan gedung sekolah, pembukaan jalan baru, gedung pertemuan, bioskop, hotel, rumah sakit dan tempat ibadah, mengubah segi fisik kota Kota Yogyakarta. Dari sumber lain mengatakan bahwa dulu Kota Yogyakarta identik dengan alat transportasi tradisional seperti andong dan sepeda yang bebas dari polusi, namun semua ini sudah mulai ditinggalkan seiring tumbuhnya berbagai infrastruktur modern bermunculan yang memacu perkembangan alat transportasi modern. Hal ini menjadikan identitas kota budaya yang identik dengan tradisional sedikit demi sedikit mulai pudar dan bergeser menuju kota Kosmopolitan.

Pergeseran identitas kota ini tidak hanya dirasakan olah kota Yogyakarta saja, kota Solo dinataranya merupakan kota yang mengalami imbas yang sama seperti kota Yogyakarta. Branding Solo kota budaya, Solo future is Solo the past dan Solo the spirit of java. Branding yang berbau romantisme tempo doeloe itu seakan hambar ketika muncul berbagai kasus yang mengiringi brand itu, seperti polemic tentang Benten Vanstenburg yang akan dijadikan hotel, rusaknya berbagai herttage kota serta lesunya pertunjukan kebudayaan wayang wong Sriwedari dan Kethoprak Balekambang. Munculnya fenomena ini akhirnya menyadarkan betapa setumpuk branding kota Solo hanyalah sebuah slogan belaka, substansinya kota ini telah mengalami perubahan nilai yang mendorong perubahan jati diri warganya.

Suatu hal yang perlu dipertanyakan, perlukah suatu kota memiliki jati diri? Jawaban yang pasti adalah bahwa identitas bagaimanapun sangat perlu bagi seseorang atau kelompok orang bila bersangkutan ingin membangun masa depannya. Persoalannya adalah bahwa kota dan masyarakatnya selalu berubah, sehingga kemungkinan identitasnya pun dapat berubah. Kota, seperti kata Mumford, dapat berkembang atau berubah dari eopolis menjadi metropolis, megapolis bahkan dapat menjadi teranopolis atau necropolis. Dengan kata lain setiap kota akan mengalami perkembangan sekaligus kemunduran.

Bagaimana dengan jati diri kota Solo? Belakangan banyak pihak yang mengeluh akan pudarnya jati diri kota ini akibat proses modernisasi perkotaan. Berkaitan dengan Kota Solo sesungguhnya keluhan itu cukup dilematis karena secara ilmiah pada satu sisi kota tentu akan berubah, tapi pada sisi lain tentu problem modernisasi menampakkan sisi yang kurang mendukung kondisi social psikologi masyarakat. Oleh karena itu eksistensi Kota Solo sekarang ini berkembang melalui proses waktu, kiranya penjelasan yang paling pas adalah penjelasan sejarah.

Kota Solo di era Orde Baru mengalami perkembangan pesat sejak memasuki decade 1980-an, banyak prasarana kota dibangun seperti jalan, air besih, dan perkantoran. Dalam periode ini yang menarik untuk dicermati adalah kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pebankan dan pariwisata. Berkaitan dengan kebijakan itu bak jamur di musim hujan di Solo banyak bemunculan bangunan bank dan hotel, menyusul kemudian adalah bangunan Mall.

Dengan menjamurnya bangunan mall yang mengepung solo dari Palur hingga Kartasura mengindikasikan estetika kota Solo tidak berbeda dengan kota besar lain seperti Jakarta dan Surabaya. Estetika itu yang ditunjukan dengan maraknya bangunan modern bergaya barat telah mengimbas pula perlaku hedonism, karena pada dasarnya bangunan itu tidak bebas nilai. Suatu hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan maraknya hedonisme adalah cara pandang hidup seseorang / masyarakat. Masyarakat hedonis cenderung mementingkan masa kini. Dengan cara pandang ini orang tidak lagi befikit ke depan. Pemikiran yang tidak mengacu ke masa depan secara praktis tidak lagi memerlukan pijakan (rujukan), dalam hal ini nilai tradisi. Oleh karena itu keresahan akan pudarnya jati diri pada masyarakat Kota Solo boleh jadi menjadi indikasi bahwa Solo telah menapak menjadi hypercity.

Memang, semua keterangan ini tidak dapat dijadikan sebuah klaim bahwa kedua kota yang masih memiliki dan berdasar hukum adat dan tradisi kerajaan (Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta) ini telah berubah secara identitas kebudayaannya, namun mampu menggambarkan sejarah dari kedua kota ini (Solo dan Yogyakarta), dan tidak menutup kemungkinan diwaktu mendatang akan bermunculan sebuah buku yang menggambarkan karya sejarah lain. Yang menjadi kritikan bagi buku ini yaitu dari artikel-artikel di dalamnya hanya menyajikan keadaan sejarah saja tidak disertai dengan memberikan solusi-solusi untuk menangani permasalah-permasalahannya, karena sangat penting bagi pembaca. Seperti memberikan solusi permasalahan dalam menangani modernisasi serta mempertahankan nilai histories kebudayaan dan tradisi. Disamping itu editor buku ini kurang memberikan penekanan dalam maksud dan tujuan pengumpulan artikel-artikel ini, serta tidak menyertakan pandangan akhir atau kesimpulan dalam buku ini.


Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

Katagori

%d bloggers like this: