Dimuat ku: barudaksunda | 24 Oktober 2011

Adat-adat Sunda

NGARAS & SIRAMAN

Ngebakan atau siraman bertujuan untuk memandikan calon mempelai wanita aga bersih lahir dan bathin sebelum memasuki saat pernikahan.
Acara berlangsung pagi atau siang hari di kediaman calon mempelai wanita. Bagi umat muslim , sebelum dimulai acara siraman terlebih dahulu diawali oleh pengajian atau rasulan dan pembacaan doa khusus kepada calon mempelai wanita.
Prosesi yang tercakup dalam acara siraman adalah sebagai berikut :

- Ngecagkeun Aisan
Dimulai dengan calon mempelai wanita keluar dari kamar secara simbolis di gendong oleh Ibu. Sementara ayah calon mempelai wanita berjalan di depan sambil membawa lilin menuju tempat siraman.

- Ngaras
Berupa permohonan izin calon mempelai wanita kepada kedua orangtua dan dilanjutkan dengan sungkeman serta mencuci kaki orang tua.Perlengkapan untuk prosesi ini cukup sederhana hanya tikar dan handuk.

- Pencampuran air siraman
Kedua orang tua menuangkan air siraman ke dalam bokor atau mangkuk dan mencampurnya untuk upacara siraman.

- Siraman
Diawali musik kecapi suling, calon mempelai wanita di bimbing oleh orang tua menuju tempat siraman dengan menginjak 7 helai kain. Siraman dimulai oleh sang Ibu , kemudian Ayah dan disusul oleh para sesepuh. Jumlah penyiram biasanya ganjil..antara 7, 9 atau 11 orang.

NGEUYEUK SEUREUH

Adalah prosesi adat dimana orang tua atau sesepuh keluarga memberikan nasehat dan juga merupakan sex education bagi kedua calon mempelai yang dilambang dengan tradisi atau benda benda yang ada dalam acara adat tersebut. Tata cara ngeuyeuk seureuh adalah sebagai berikut :
Pangeuyeuk :

1. Tetua yang dipercaya atau pemandu acara memberikan 7 helai benang kanteh sepanjang 2 jengkal kepada kedua calon mempelai untuk dipegang oleh masing masing pada tiap ujungnya, sambil duduk menghadap orang tua untuk meminta doa restu.

2. Setelah itu Pangeuyeuk membawakan kidung berupa doa – doa kepada Tuhan YME sambil menaburkan beras kepada kedua calom mempelai, dengan maksud agar keduanya kelak hidup sejahtera.

3. Kemudian kedua calon mempelai “dikeprak” ( dipukul pelan pelan ) dengan sapu lidi, diiringi nasehat bahwa hidup berumah tangga kelak harus dapat memupuk kasih sayang antara keduanya.

4. Selanjutnya membuka kain putih penutup “ pangeyeukan “ yang berarti bahwa rumah tangga yang kelak akan di bina itu masih putih bersih dan hendaknya jangan sampai ternoda.

5. Kedua calon mempelai mengangkat dua perangkat busana diatas sarung “polekat “ dan dibawa ke kamar pengantin untuk disimpan.

6. Membelah mayang dan jambe ( pinang ) , calom mempelai pria membelah kembang mayang dengan hati hati agar tidak rusak atau patah, melambangkan bahwa suami harus memperlakukan istrinya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

7. Selanjutnya kedua mempelai dipersilahkan menumbuk “halu “ ke dalam “lumpang “dengan cara : Keduanya duduk berhadapan, yang pria memegang Alu dan wanita memegang lumpang.

8. Membuat “Lungkun” yakni sirih bertangkai, 2 lembar berhadapan digulung menjadi satu dengan bentuk memanjang, lalu diikat dengan benang kanteh . Hal ini dilakukan oleh kedua calon mempelai , orang tua serta para tamu yang hadir disitu melambang kan kerukunan. Kemudian sisa sirih dan 7 bh tempat sirih yang telah diisi lengkap juga padi, labu dan kelapa dibagikan kepada orang orang yang hadir disitu. Artinya : bila dikemudian hari keduanya mendapat rejeki berlebih, hendaknya selalu ingat untuk berbagi dengan keluarga atau handai taulan yang kurang mampu.

9. Berebut uang, dipimpin oleh pangeuyeuk dengan aba aba, kedua mempelai mncari uang, beras, kunyit dan permen yang di tebar di bawah tikar. Artinya suami dan istri harus bersama sama dalam mencari rejeki dalam rumah tangga.

10. membuang bekas pangeuyeuk seureuh, biasanya di simpang empat terdekat dengan kediaman calon mempelai wanita oleh keduanya. Tradisi ini dimaksudkan bahwa dalam memulai kehidupan yang baru, hendaknya membuang semua keburukan masa lalu dan menghindari kesalahan di masa datang.

UPACARA SAWER PANGANTEN

Rangkaian upacara Sawer adalah sebagai berikut :

Nyawer
Merupakan upacara memberi nasihat kepada kedua mempelai yang dilaksanakan setelah acara akad nikah. Berlangsung di panyaweran ( di teras atau halaman ).
Kedua orang tua menyawer mempelai dengan diiringi kidung. Untuk menyawer, menggunakan bokor yang diisi uang logam, beras, irisan kunyit tipis, permen .
Kedua Mempelai duduk berdampingan dengan dinaungi payung, seiring kidung selesai di lantunkan, isi bokor di tabur, hadirin yang menyaksikan berebut memunguti uang receh dan permen.
Melambangkan Mempelai beserta keluarga berbagi rejeki dan kebahagiaan

Meuleum Harupat ( Membakar Harupat )

Mempelai pria memegang batang harupat , pengantin wanita membakar dengan lilin sampai menyala. Harupat yang sudah menyala kemudian di masukan ke dalam kendi yang di pegang mempelai wanita, diangkat kembali dan dipatahkan lalu di buang jauh jauh.
Melambang kan nasihat kepada kedua mempelai untuk senantiasa bersama dalam memecahkan persoalan dalam rumah tangga. Fungsi istri dengan memegang kendi berisi air adalah untuk mendinginkan setiap persoalan yang membuat pikiran dan hati suami tidak nyaman.

Nincak Endog ( Menginjak Telur )

Mempelai pria menginjak telur di baik papan dan elekan ( Batang bambu muda ), kemudian mempelai wanita mencuci kaki mempelai pria dengan air di kendi, me ngelapnya sampai kering lalu kendi dipecahkan berdua.
Melambangkan pengabdian istri kepada suami yang dimulai dari hari itu.

Ngaleupaskeun Japati ( Melepas Merpati )
Ibunda kedua mempelai berjalan keluar sambil masing masing membawa burung merpati yang kemudian dilepaskan terbang di halaman.
Melambang kan bahwa peran orang tua sudah berakhir hari itu karena kedua anak mereka telah mandiri dan memiliki keluarga sendiri.

Huap Lingkung
- Pasangan mempelai disuapi oleh kedua orang tua. Dimulai oleh para Ibunda yang dilanjutkan oleh kedua Ayahanda.
– Kedua mempelai saling menyuapi, Tersedia 7 bulatan nasi punar ( Nasi ketan kuning ) diatas piring. Saling menyuap melalui bahu masing masing kemudian satu bulatan di perebutkan keduanya untuk kemudian dibelah dua dan disuapkan kepada pasangan .
Melambangkan suapan terakhir dari orang tua karena setelah berkeluarga, kedua anak mereka harus mencari sendiri sumber kebutuhan hidup mereka dan juga menandakan bahwa kasih sayang kedua orang tua terhadap anak dan menantu itu sama besarnya.

Pabetot Bakakak

Kedua mempelai duduk berhadapan sambil tangan kanan mereka memegang kedua paha ayam bakakak di atas meja, kemudian pemandu acara memberi aba – aba , kedua mempelai serentak menarik bakakak ayam tersebut hinggak terbelah. Yang mendapat bagian terbesar, harus membagi dengan pasangannya dengan cara digigit bersama.
Melambangkan bahwa berapapun rejeki yang didapat, harus dibagi berdua dan dinikmati bersama.

 

A. Upacara Adat Seren Taun

Upacara Seren Taun yaitu upacara adat yang intinya mengangkut padi (ngakut pare) dari sawah ke leuit (lumbung padi) dengan menggunakan pikulan khusus yang disebut rengkong dengan diiringi tabuhan musik tradisional. Selanjutnya di adakan riungan (pertemuan) antara sesepuh adat/pemuka masyarakat dengan pejabat pemerintah setempat. Dalam riungan tersebut antara lain Disampaikan kabar gembira kepada pejabat setempat mengenai keberhasilan panen (hasil tani) dan kesejahteraan masyarakat yang dicapai dalam kurun waktu yang telah dilalui. Salah satu ciri khas upacara seren taun adalah melalukan seba, yaitu menyampaikan aneka macam hasil panen kepada pejabat setempat agar ikut menikmati hasil tani mereka. Salah satu tujuan upacara seren taun ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilannya bertani serta mengharapkan pada masa mendatang akan lebih berhasil lagi. Upacara seren taun dapat dijumpai di Kasepuhan Sirnarasa Cisolok-Sukabumi Selatan, Cigugur Kuningan dan Baduy-Lebak/Banten.

B. Upacara Adat Kawin Tebu

Upacara tradisional Kawin Tebu dilaksanakan seperti upacara perkawinan manusia, yang mana satu batang tebu dikawinkan dengan tebu yang lainnya dengan suatu prosesi upacara. Upacara ini dilaksanakan setelah panen menjelang tebu dimasukan ke pabrik untuk diproses menjadi gula, atau awal musim tanam tebu. Menjelang diadakan perkawinan tebu ditampilkan berbagai atraksi kesenian yang diikuti oleh masyarakat setempat, terutama oleh para pekerja pabrik gula dan keluarganya. Upacara ini sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil tanam yang dicapai serta memohon kepada tuhan YME. agar hasil tanam yang akan datang lebih baik lagi. Upacara ini terdapat di daerah Kadipaten, Kabupaten Majalengka.

C. Upacara Adat Ampih Pare

Upacara Ampih Pare adalah upacara menyimpan hasil panen padi dari sawah/ladang ke tempat penyimpanan padi (pare) yang disebut leuit. Pada pelaksanaannya para petani dengan memakai pakaian adat yang khas, memikul hasil panennya dengan menggunakan alat pikul yang disebut “rengkong”. Selama perjalanan alat pikul tersebut menimbulkan bunyi yang khas, upacara ampih pare merupakan suatu prosesi pertunjukan kesenian yang khas. Terdapat di Kabupaten Sumedang, Cianjur, Karawang dan Subang.

D. Upacara Adat Ngarot

Upacara Ngarot dilaksanakan pada saat dimulainya musim tanam , yaitu pada awal musim penghujan, saat musim tanam yang baik untuk menggarap tanah palawija di Ladang. Pelaksanaannya dengan cara mengadakan keramaian berupa arak-arakan menuju Bale Desa. Upacara ini sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon kepada sang Pencipta agar hasil berladangnya diberkahi dan dilimpahkan hasilnya untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Upacara ini terdapat di daerah Indramayu.

E. Upacara Adat Sedekah Bumi

Upacara ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang diterima oleh masyarakat berhasil baik. Upacara tradisi seperti ini terdapat di Cirebon, pelaksanaan upacara ini di Makam Sunan Gunung Jati yang dipimpin oleh Ki Penghulu. Setelah upacara ini selesai, biasanya di Alun-alun diselenggarakan berbagai kesenian, sebagai acara puncaknya pergelaran Wayang Orang.

F. Upacara Adat Pesta Laut

Upacara Pesta laut biasanya diselenggarakan di daerah pesisir jawa barat seperti Pelabuhan Ratu (Sukabumi) dan Pangandaran (Ciamis). Upacara ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt atas hasil laut yang diperoleh para nelayan, juga sebagai ungkapan permohonan agar para nelayan selalu selamat dan sehat serta memperoleh hasil laut yang melimpah. Di dalam upacara tersebut perahu-perahu nelayan dihiasi dengan berbagai ornamen berwarna-warni yang dinaiki oleh para nelayan dan dilengkapi sesajen. Yang unik dalam upacara ini adalah para nelayan menghadiahkan kepala kerbau yang sudah dibungkus kain putih kepada penguasa laut sebagai penolak bala. Perahu yang membawa sesajen dan kepala kerbau berada di posisi paling depan dan diikuti perahu-perahu lainnya yang ditumpangi para nelayan dan keluarganya serta masyarakat setempat. Perahu melaju ke tengah laut mereka bersorak- ria sambil memainkan alat musik serta menyanyikan lagu-lagu pujian terhadap Tuhan pencipta alam semesta, mereka menikmati upacara tersebut. Sebelum kepala kerbau dihanyutkan di tengah laut, mereka berdo’a bersama untuk keselamatan. Pesta laut diadakan setahun sekali.

 

 

 

Adat istiadat yang diwariskan leluhurnya pada masyarakat Sunda masih dipelihara dan dihormati. Dalam daur hidup manusia dikenal upacara-upacara yang bersifat ritual adat seperti: upacara adat Masa Kehamilan, Masa Kelahiran, Masa Anak-anak, Perkawinan, Kematian dll. Demikian juga dalam kegiatan pertanian dan keagamaan dikenal upacara adat yang unik dan menarik. Itu semua ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur dan mohon kesejahteraan dan keselamatan lahir bathin dunia dan akhirat. Beberapa kegiatan upacara adat di Jawa Barat dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Upacara Daur Hidup Manusia
A.Upacara Adat Masa Kehamilan

1. Upacara Mengandung Empat Bulan
Dulu Masyarakat Jawa Barat apabila seorang perempuan baru mengandung 2 atau 3 bulan belum disebut hamil, masih disebut mengidam. Setelah lewat 3 bulan barulah disebut hamil. Upacara mengandung Tiga Bulan dan Lima Bulan dilakukan sebagai pemberitahuan kepada tetangga dan kerabat bahwa perempuan itu sudah betul-betul hamil.
Namun sekarang kecenderungan orang-orang melaksanakan upacara pada saat kehamilan menginjank empat bulan, karena pada usia kehamilan empat bulan itulah saat ditiupkannya roh pada jabang bayi oleh Allah SWT. Biasanya pelaksanaan upacara Mengandung empat Bulan ini mengundang pengajian untuk membacakan do’a selamat, biasanya doa nurbuat dan doa lainnya agar bayinya mulus, sempurna, sehat, dan selamat.

2. Upacara Mengandung Tujuh Bulan/Tingkeban
Upacara Tingkeban adalah upacara yang diselenggarakan pada saat seorang ibu mengandung 7 bulan. Hal itu dilaksanakan agar bayi yang di dalam kandungan dan ibu yang melahirkan akan selamat. Tingkeban berasal dari kata tingkeb artinya tutup, maksudnya si ibu yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari sesudah persalinan, dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang dikandung sudah besar, hal ini untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan. Di dalam upacara ini biasa diadakan pengajian biasanya membaca ayat-ayat Al-Quran surat Yusuf, surat Lukman dan surat Maryam.
Di samping itu dipersiapkan pula peralatan untuk upacara memandikan ibu hamil , dan yang utama adalah rujak kanistren yang terdiri dari 7 macam buah-buahan. Ibu yang sedang hamil tadi dimandikan oleh 7 orang keluarga dekat yang dipimpin seorang paraji secara bergantian dengan menggunakan 7 lembar kain batik yang dipakai bergantian setiap guyuran dan dimandikan dengan air kembang 7 rupa. Pada guyuran ketujuh dimasukan belut sampai mengena pada perut si ibu hamil, hal ini dimaksudkan agar bayi yang akan dilahirkan dapat berjalan lancar (licin seperti belut). Bersamaan dengan jatuhnya belut, kelapa gading yang telah digambari tokoh wayang oleh suaminya dibelah dengan golok. Hal ini dimaksudkan agar bayi yang dikandung dan orang tuanya dapat berbuat baik lahir dan batin, seperti keadaan kelapa gading warnanya elok, bila dibelah airnya bersih dan manis. Itulah perumpamaan yang diharapkan bagi bayi yang dikandung supaya mendapatkan keselamatan dunia-akhirat.

Sesudah selesai dimandikan biasanya ibu hamil didandani dibawa menuju ke tempat rujak kanistren tadi yang sudah dipersiapkan. Kemudian sang ibu menjual rujak itu kepada anak-anak dan para tamu yang hadir dalam upacara itu, dan mereka membelinya dengan menggunakan talawengkar, yaitu genteng yang sudah dibentuk bundar seperti koin. Sementara si ibu hamil menjual rujak, suaminya membuang sisa peralatan mandi seperti air sisa dalam jajambaran, belut, bunga, dsb. Semuanya itu harus dibuang di jalan simpang empat atau simpang tiga. Setelah rujak kanistren habis terjual selesailah serangkaian upacara adat tingkeban.

3. Upacara Mengandung Sembilan Bulan
Upacara sembuilan bulan dilaksanakan setelah usia kandungan masuk sembilan bulan. Dalam upacara ini diadakan pengajian dengan maksud agar bayi yang dikandung cepat lahir dengan selamat karena sudah waktunya lahir. Dalam upacara ini dibuar bubur lolos, sebagai simbul dari upacara ini yaitu supaya mendapat kemudahan waktu melahirkan, lolos. Bubur lolos ini biasanya dibagikan beserta nasi tumpeng atau makanan lainnya.

4. Upacara Reuneuh Mundingeun
Upacara Reuneuh Mundingeun dilaksanakan apabila perempuan yang mengandung lebih dari sembilan bulan,bahkan ada yang sampai 12 bulan tetapi belum melahirkan juga, perempuan yang hamil itu disebut Reuneuh Mundingeun, seperti munding atau kerbau yang bunting. Upacara ini diselenggarakan agar perempuan yang hamil tua itu segera melahirkan jangan seperti kerbau, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Pada pelaksanaannya leher perempuan itu dikalungi kolotok dan dituntun oleh indung beurang sambil membaca doa dibawa ke kandang kerbau. Kalau tidak ada kandang kerbau, cukup dengan mengelilingi rumah sebanyak tujuh kali. Perempuan yang hamil itu harus berbuat seperti kerbau dan menirukan bunyi kerbau sambil dituntun dan diiringkan oleh anak-anak yang memegang cambuk. Setelah mengelilingi kandang kerbau atau rumah, kemudian oleh indung beurang dimandikan dan disuruh masuk ke dalam rumah. Di kota pelaksanaan upacara ini sudah jarang dilaksanakan.

B. Upacara Kelahiran dan Masa Bayi

1. Upacara Memelihara Tembuni
Tembuni/placenta dipandang sebagai saudara bayi karena itu tidak boleh dibuang sembarangan, tetapi harus diadakan upacara waktu menguburnya atau menghanyutkannya ke sungai.
Bersamaan dengan bayi dilahirkan, tembuni (placenta) yang keluar biasanya dirawat dibersihkan dan dimasukan ke dalam pendil dicampuri bumbu-bumbu garam, asam dan gula merah lalu ditutup memakai kain putih yang telah diberi udara melalui bambu kecil (elekan). Pendil diemban dengan kain panjang dan dipayungi, biasanya oleh seorang paraji untuk dikuburkan di halaman rumah atau dekat rumah. Ada juga yang dihanyutkan ke sungai secara adat. Upacara penguburan tembuni disertai pembacaan doa selamat dan menyampaikan hadiah atau tawasulan kepada Syeh Abdulkadir Jaelani dan ahli kubur. Di dekat kuburan tembuni itu dinyalakan cempor/pelita sampai tali pusat bayi lepas dari perutnya.. Upacara pemeliharaan tembuni dimaksudkan agar bayi itu selamat dan kelak menjadi orang yang berbahagia.

2. Upacara Nenjrag Bumi
Upacara Nenjrag Bumi ialah upacara memukulkan alu ke bumi sebanyak tujuh kali di dekat bayi, atau cara lain yaitu bayi dibaringkan di atas pelupuh (lantai dari bambo yang dibelah-belah ), kemudian indung beurang menghentakkan kakinya ke pelupuh di dekat bayi. Maksud dan tujuan dari upacara ini ialah agar bayi kelak menjadi anak yang tidak lekas terkejut atau takut jika mendengar bunyi yang tiba-tiba dan menakutkan.

3 .Upacara Puput Puseur
Setelah bayi terlepas dari tali pusatnya, biasanya diadakan selamatan. Tali pusat yang sudah lepas itu oleh indung beurang dimasukkan ke dalam kanjut kundang . Seterusnya pusar bayi ditutup dengan uang logam/benggol yang telah dibungkus kasa atau kapas dan diikatkan pada perut bayi, maksudnya agar pusat bayi tidak dosol, menonjol ke luar. Ada juga pada saat upacara ini dilaksanakan sekaligus dengan pemberian nama bayi. Pada upacara ini dibacakan doa selamat, dan disediakan bubur merah bubur putih.
Ada kepercayaan bahwa tali pusat (tali ari-ari) termasuk saudara bayi juga yang harus dipelihara dengan sungguh-sungguh. Adapun saudara bayi yang tiga lagi ialah tembuni, pembungkus, dan kakawah. Tali ari, tembuni, pembungkus, dan kakawah biasa disebut dulur opat kalima pancer, yaitu empat bersaudara dan kelimanya sebagai pusatnya ialah bayi itu. Kesemuanya itu harus dipelihara dengan baik agar bayi itu kelak setelah dewasa dapat hidup rukun dengan saudara-saudaranya (kakak dan adiknya) sehingga tercapailah kebahagiaan.

4. Upacara Ekah
Sebetulnya kata ekah berasal dari bahasa Arab, dari kata aqiqatun “anak kandung”. Upacara Ekah ialah upacara menebus jiwa anak sebagai pemberian Tuhan, atau ungkapan rasa syukur telah dikaruniai anak oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, dan mengharapkan anak itu kelak menjadi orang yang saleh yang dapat menolong kedua orang tuanya nanti di alam akhirat. Pada pelaksanaan upacara ini biasanya diselenggarakan setelah bayi berusia 7 hari, atau 14 hari, dan boleh juga setelah 21 hari. Perlengkapan yangb harus disediakan adalah domba atau kambing untuk disembelih, jika anak laki-laki dombanya harus dua (kecuali bagi yang tidak mampu cukup seekor), dan jika anak perempuan hanya seekor saja.
Domba yang akan disembelih untuk upacara Ekah itu harus yang baik, yang memenuhi syarat untuk kurban. Selanjutnya domba itu disembelih oleh ahlinya atau Ajengan dengan pembacaan doa selamat, setelah itu dimasak dan dibagikan kepada handai tolan.

5. Upacara Nurunkeun
Upacara Nurunkeun ialah upacara pertama kali bayi dibawa ke halaman rumah, maksudnya mengenal lingkungan dan sebagai pemberitahuan kepada tetangga bahwa bayi itu sudah dapat digendong dibawa berjalan-jalan di halaman rumah. Upacara Nurun keun dilaksanakan setelah tujuh hari upacara Puput Puseur. Pada pelaksanaannya biasa diadakan pengajian untuk keselamatan dan sebagai hiburannya diadakan pohon tebu atau pohon pisang yang digantungi aneka makanan, permainan anak-anak yang diletakan di ruang tamu. Untuyk diperebutkan oleh para tamu terutama oleh anak-anak.

6. Upacara Cukuran/Marhabaan
Upacara cukuran dimaksudkan untuk membersihkan atau menyucikan rambut bayi dari segala macam najis. Upacara cukuran atau marhabaan juga merupakan ungkapan syukuran atau terima kasih kepada Tuhan YME yang telah mengkaruniakan seorang anak yang telah lahir dengan selamat. Upacara cukuran dilaksanakan pada saat bayi berumur 40 hari.
Pada pelaksanaannya bayi dibaringkan di tengah-tengah para undangan disertai perlengkapan bokor yang diisi air kembang 7 rupa dan gunting yang digantungi perhiasan emas berupa kalung, cincin atau gelang untuk mencukur rambut bayi. Pada saat itu mulailah para undangan berdo’a dan berjanji atau disebut marhaban atau pupujian, yaitu memuji sifat-sifat nabi Muhammad saw. dan membacakan doa yang mempunyai makna selamat lahir bathin dunia akhirat. Pada saat marhabaan itulah rambut bayi digunting sedikit oleh beberapa orang yang berdoa pada saat itu.

7. Upacara Turun Taneuh
Upacara Turun Taneuh ialah upacara pertama kali bayi menjejakkan kakinya ke tanah, diselenggarakan setelah bayi itu agak besar, setelah dapat merangkak atau melangkah sedikit-sedikit. Upacara ini dimaksudkan agar si anak mengetahui keduniawian dan untuk mengetahui akan menjadi apakah anak itu kelak, apakah akan menjadi petani, pedagang, atau akan menjadi orang yang berpangkat.
Perlengkapan yang disediakan harus lebih lengkap dari upacara Nurunkeun, selain aneka makanan juga disediakan kain panjang untuk menggendong, tikar atau taplak putih, padi segenggam, perhiasan emas (kalung, gelang, cincin), uang yang terdiri dari uang lembaran ratusan, rebuan, dan puluh ribuan.
Jalannya upacara, apabila para undangan telah berkumpul diadakan doa selamat, setelah itu bayi digendong dan dibawa ke luar rumah. Di halam rumah telah dipersiapkan aneka makanan, perhiasan dan uang yang disimpan di atas kain putih, selanjutnya kaki si anak diinjakan pada padi/ makanan, emas, dan uang, hal ini dimaksudkan agar si anak kelak pintar mencari nafkah. Kemudian anak itu dilepaskan di atas barang-barang tadi dan dibiarkan merangkak sendiri, para undangan memperhatikan barang apa yang pertama kali dipegangnya. Jika anak itu memegang padi, hal itu menandakan anak itu kelak menjadi petani. Jika yang dipegang itu uang, menandakan anak itu kelak menjadi saudagar/pengusaha. Demikian pula apabila yang dipegangnya emas, menandakan anak itu kelak akan menjadi orang yang berpangkat atau mempunyai kedudukan yang terhormat.

C. Upacara Masa Kanak-kanak

1. Upacara Gusaran
Gusaran adalah meratakan gigi anak perempuan dengan alat khusus. Maksud upacara Gusaran ialah agar gigi anak perempuan itu rata dan terutama agar nampak bertambah cantik. Upacara Gusaran dilaksanakan apabila anak perempuan sudah berusia tujuh tahun. Jalannya upacara, anak perempuan setelah didandani duduk di antara para undangan, selanjutnya membacakan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian Indung beurang melaksanakan gusaran terhadap anak perempuan itu, setelah selesai lalu dibawa ke tangga rumah untuk disawer (dinasihati melalui syair lagu). Selesai disawer, kemudian dilanjutkan dengan makan-makan. Biasanya dalam upacara Gusaran juga dilaksanakan tindikan, yaitu melubangi daun telinga untuk memasang anting-anting, agar kelihatannya lebih cantik lagi.

2. Upacara Sepitan/Sunatan
Upacara sunatan/khitanan dilakukan dengan maksud agar alat vitalnya bersih dari najis . Anak yang telah menjalani upacara sunatan dianggap telah melaksanakan salah satu syarat utama sebagai umat Islam. Upacara Sepitan anak perempuan diselenggarakan pada waktu anak itu masih kecil atau masih bayi, supaya tidak malu. Upacara sunatan diselenggarakan biasanya jika anak laki-laki menginjak usia 6 tahun. Dalam upacara sunatan selain paraji sunat, juga diundang para tetangga, handai tolan dan kerabat..
Pada pelaksanaannya pagi-pagi sekali anak yang akan disunat dimandikan atau direndam di kolam sampai menggigil (kini hal semacam itu jarang dilakukan lagi berhubung teknologi kesehatan sudah berkembang), kemudian dipangku dibawa ke halaman rumah untuk disunat oleh paraji sunat (bengkong), banyak orang yang menyaksikan diantaranya ada yang memegang ayam jantan untuk disembelih, ada yang memegang petasan dan macam-macam tetabuhan sambil menyanyikan marhaba. Bersamaan dengan anak itu disunati, ayam jantan disembelih sebagai bela, petasan disulut, dan tetabuhan dibunyikan . Kemudian anak yang telah disunat dibawa ke dalam rumah untuk diobati oleh paraji sunat. Tidak lama setelah itu para undangan pun berdatangan, baik yang dekat maupun yang jauh. Mereka memberikan uang/ nyecep kepada anak yang disunat itu agar bergembira dan dapat melupakan rasa sakitnya. Pada acara ini adapula yang menyelenggarakan hiburan seperti wayang golek, sisingaan atau aneka tarian.

D. Upacara Adat Perkawinan

Secara kronologis upacara adat perkawinan dapat diurut mulai dari adat sebelum akad nikah, saat akad nikah dan sesudah akad nikah

1. Upacara sebelum akad nikah
pada upacara ini biasanya dilaksanakan adat :
(1) Neundeun Omong : yaitu kunjungan orang tua jejaka kepada orang tua si gadis untuk bersilaturahmi dan menyimpan pesan bahwa kelak anak gadisnya akan dilamar.
(2) Ngalamar : nanyaan atau nyeureuhan yaitu kunjungan orang tua jejaka untuk meminang/melamar si gadis, dalam kunjungan tersebut dibahas pula mengenai rencana waktu penikahannya. Sebagai acara penutup dalam ngalamar ini si pelamar memberikan uang sekedarnya kepada orang tua si gadis sebagai panyangcang atau pengikat, kadang-kadang dilengkapi pula dengan sirih pinang selengkapnya disertai kue-kue & buah-buahan. Mulai saat itu si gadis telah terikat dan disebut orang bertunangan.
(3) Seserahan: yaitu menyerahkan si jejaka calon pengantin pria kepada calon mertuanya untuk dikawinkan kepada si gadis. Pada acara ini biasa dihadiri oleh para kerabat terdekat, di samping menyerahkan calon pengantin pria juga barang-barang berupa uang, pakaian, perhiasan, kosmetik dan perlengkapan wanita, dalam hal ini tergantung pula pada kemampuan pihak calon pengantin pria. Upacara ini dilakukan 1 atau 2 hari sebelum hari perkawinan atau adapula yang melaksanakan pada hari perkawinan sebelum akad nikah dimulai.
(4) Ngeuyeuk Seureuh: artinya mengerjakan dan mengatur sirih serta mengait-ngaitkannya. Upacara ini dilakukan sehari sebelum hari perkawinan, yang menghadiri upacara ini adalah kedua calon pengantin, orang tua calon pengantin dan para undangan yang telah dewasa. Upacara dipimpin oleh seorang pengetua, benda perlengkapan untuk upacara ini seperti sirih beranting, setandan buah pinang, mayang pinang, tembakau, kasang jinem/kain, elekan, dll semuanya mengandung makna/perlambang dalam kehidupan berumah tangga. Upacara ngeuyeuk seureuh dimaksudkan untuk menasihati kedua calon mempelai tentang pandangan hidup dan cara menjalankan kehidupan berumah tangga berdasarkan etika dan agama, agar bahagia dan selamat. Upacara pokok dalam adat perkawinan adalah ijab kabul atau akad nikah .

2. Upacara Adat Akad Nikah
Upacara perkawinan dapat dilaksanakan apabila telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dalam agama Islam dan adat. Ketentuan tersebut adalah: adanya keinginan dari kedua calon mempelai tanpa paksaan, harus ada wali nikah yaitu ayah calon mempelai perempuan atau wakilnya yang sah, ada ijab kabul, ada saksi dan ada mas kawin. Yang memimpin pelaksanaan akad nikah adalah seorang Penghulu atau Naib, yaitu pejabat Kantor Urusan Agama.
Upacara akad nikah biasa dilaksanakan di Mesjid atau di rumah mempelai wanita. Adapun pelaksanaannya adalah kedua mempelai duduk bersanding diapit oleh orang tua kedua mempelai, mereka duduk berhadapan dengan penghulu yang di kanan kirinya didampingi oleh 2 orang saksi dan para undangan duduk berkeliling. Yang mengawinkan harus wali dari mempelai perempuan atau mewakilkan kepada penghulu. Kalimat menikahkan dari penghulu disebut ijab, sedang sambutan dari mempelai pria disebut qobul (kabul). Setelah dilakukan ijab-qobul dengan baik selanjutnya mempelai pria membacakan talek, yang bermakna ‘janji’ dan menandatangani surat nikah. Upacara diakhiri dengan penyerahan mas kawin dari mempelai pria kepada mempelai wanita.

3. Upacara Adat sesudah akad nikah
a) Munjungan/sungkeman : yaitu kedua mempelai sungkem kepada kedua orang tua mempelai untuk memohon do’a restu.
b) Upacara Sawer (Nyawer): perlengkapan yang diperlukan adalah sebuah bokor yang berisi beras kuning, uang kecil (receh) /logam, bunga, dua buah tektek (lipatan sirih yang berisi ramuan untuk menyirih), dan permen. Pada pelaksanaannya kedua mempelai duduk di halaman rumah di bawah cucuran atap (panyaweran), upacara dipimpin oleh juru sawer. Juru sawer menaburkan isi bokor tadi kepada kedua pengantin dan para undangan sebagai selingan dari syair yang dinyanyikan olehnya sendiri. Adapun makna dari upacara nyawer tersurat dalam syair yang ditembangkan juru sawer, intinya adalah memberikan nasehat kepada kedua mempelai agar saling mengasihani, dan mendo’akan agar kedua mempelai mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam membina rumah tangganya, hidup rukun sampai diakhir hayatnya.
c) Upacara Nincak Endog : atau upacara injak telur yaitu setelah upacara nyawer kedua mempelai mendekati tangga rumah , di sana telah tersedia perlengkapan seperti sebuah ajug/lilin, seikat harupat (sagar enau) berisikan 7 batang, sebuah tunjangan atau barera (alat tenun tradisional) yang diikat kain tenun poleng, sebuah elekan, sebutir telur ayam mentah, sebuah kendi berisi air, dan batu pipisan, semua perlengkapan ini mempunyai perlambang. Dalam pelaksanaannya lilin dinyalakan, mempelai wanita membakar ujung harupat selanjutnya dibuang, lalu mempelai pria menginjak telur, setelah itu kakinya ditaruh di atas batu pipisan untuk dibasuh air kendi oleh mempelai wanita dan kendinya langsung dihempaskan ke tanah hingga hancur. Makna dari upacara ini adalah menggambarkan pengabdian seorang istri kepada suaminya.
d) Upacara Buka Pintu : upacara ini dilaksanakan setelah upacara nincak endog, mempelai wanita masuk ke dalam rumah sedangkan mempelai pria menunggu di luar, hal ini menunjukan bahwa mempelai wanita belum mau membukakan pintu sebelum mempelai pria kedengaran mengucapkan sahadat. Maksud upacara ini untuk meyakinkan kebenarannya beragama Islam. Setelah membacakan sahadat pintu dibuka dan mempelai pria dipersilakan masuk. Tanya jawab antara keduanya dilakukan dengan nyanyian (tembang) yang dilakukan oleh juru tembang.
e) Upacara Huap Lingkung : Kedua mempelai duduk bersanding, yang wanita di sebelah kiri pria, di depan mempelai telah tersedia adep-adep yaitu nasi kuning dan bakakak ayam (panggang ayam yang bagian dadanya dibelah dua). Mula-mula bakakak ayam dipegang kedua mempelai lalu saling tarik menarik hingga menjadi dua. Siapa yang mendapatkan bagian terbesar dialah yang akan memperoleh rejeki besar diantara keduanya. Setelah itu kedua mempelai huap lingkung , saling menyuapi. Upacara ini dimaksudkan agar kedua mempelai harus saling memberi tanpa batas, dengan tulus dan ikhlas sepenuh hati.
Sehabis upacara huap lingkung kedua mempelai dipersilakan duduk di pelaminan diapit oleh kedua orang tua mempelai untuk menerima ucapan selamat dari para undangan (acara resepsi).

E. Upacara Adat Kematian
Pada garis besarnya rangkaian upacara adat kematian dapat digambarkan sebagai berikut: memandikan mayat, mengkafani mayat, menyolatkan mayat, menguburkan mayat, menyusur tanah dan tahlilan, yaitu pembacaan do’a dan zikir kepada Allah swt. agar arwah orang yang baru meninggal dunia itu diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya, juga mendo’kan agar keluarga yang ditinggalkannya tetap tabah dan beriman dalam menghadapi cobaan. Tahlilan dilaksanakan di rumahnya, biasanya sore/malam hari pada hari pertama wafatnya (poena), tiluna (tiga harinya), tujuhna (tujuh harinya), matangpuluh (empat puluh harinya), natus (seratus hari), mendak taun (satu tahunnya), dan newu (seribu harinya).

 

 

 

A. Upacara Ngirab/Rebo Wekasan

Upacara ini ditandai dengan berziarahnya masyarakat setempat ke makam Sunan Kalijaga, yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar, karena waktu tersebut dianggap hari yang paling baik untuk menghilangkan bencana dan kemalangan dalam hidup manusia. Setelah upacara selesai, dilanjutkan dengan berbagai pertandingan seperti lomba mendayung dan sebagainya. Upacara ini biasa dilaksanakan di sungai Drajat, Kota Cirebon.

B. Upacara Maulud Nabi Muhammad Saw.

Upacara ini adalah merupakan upacara keagamaan. Maulud Nabi Muhammad SAW adalah peringatan hari lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW dimana sejumlah masyarakat berkumpul berdatangan dari berbagai daerah di luar Kota Cirebon untuk mengikuti upacara tersebut. Setelah selesai upacara dilanjutkan dengan ziarah ke makam para wali dan kramat-kramat lainnya, baik dari masyarakat Cirebon maupun masyarakat dari luar daerah. Di tiap daerah pun diadakan peringatan Maulud Nabi Muhammad Saw, dengan cara pengajian dan pembacaan solawat kepada Nabi Muhammad Saw disertai ceramah keagamaan.

C. Upacara Adat Nyalawean

Upacara Nyalawean merupakan upacara keagamaan untuk memperingati hari lahirnya Nabi besar Muhammad SAW yang diselenggarakan di alun-alun desa Trusmi , Kabupaten Cirebon selama 5 hari. Upacara ini dilaksanakan 12 hari setelah peringatan yang sama di keraton Cirebon. Selain dilaksanakannya upacara keagamaan, juga mengadakan ziarah ke makam para leluhur orang Trusmi agar memperoleh rahmat, kesejahteraan serta kebahagiaan.

D. Upacara Peringatan Isro Mi’raj

Di setiap daerah di Jawa Barat khususnya bagi umat Islam, setiap tanggal 27 bulan Rajab biasa dilakukan peringatan Isro Mi’raj. Isro yaitu hijrahnya Nabi Muhammad dari masjidil Haram Mekah ke mesjidil Aqso. Sedangkan Mi’raj adalah peristiwa naiknya Nabi Muhammad ke langit ke tujuh dan diberikannya wahyu untuk melaksanakan sholat 5 waktu sehari. Pada pelaksanaan peringatan Isra Miraj biasa diadakan pengajian, pembacaan solawat dan ceramah keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar manusia dalam menjalankan hidupnya harudisertai dengan peningkatan ibadah terhadap Allah SWT. Seusai kegiatan tersebut biasa diadakan makan nasi tumpeng bersama.

E. Upacara Lebaran 1 Syawal

Setelah puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, pada tanggal 1 Syawal merupakan hari raya Idul fitri atau hari lebaran, yaitu hari dimana umat Islam merayakan hari yang penuh kesucian dan kebebasan, bebas dari puasa dan bebas dari dosa. Pagi hari setelah solat subuh, umat Islam yang merayakan Lebaran solat berjamaah di lapangan atau di mesjid, mendengarkan ceramah dan berdo’a. Setelah itu bersalaman saling memaafkan. Begitu pula sesampainya di rumah diadakan upacara sungkeman, orang tua duduk berdampingan, anak-anaknya sungkem bersalaman saling memaafkan antara anggota keluarga. Setelah itu makan bersama yaitu makan khas Lebaran “ketupat” beserta lauk-pauk dan makanan lainnya khas lebaran. Selanjutnya mereka dengan baju barunya pergi ke tetangga dan kerabat untuk bersilaturahmi saling memaafkan sambil membawa makanan atau hadiah lainnya. Ada juga yang berziarah terlebih dahulu ke makam keluarga untuk mendo’akan para arwah. Masyarakat Sunda umumnya melaksanakan lebaran ini dengan penuh hikmah dan semangat.

nanpunya.wordpress.com

padmaloka-tradisi.blogspot.com

 

 

 

DAFTAR ISTILAH

Author: Rian Saepuloh /

Anggoan : pakaian, bahasa halus dari pakean. Panganggo, adat kebiasaan; bahasa halus dari pamake.
Bewara : berita, kabar
Bungsu : bontot, terakhir, termuda (anak).
Canoli : seorang perempuan yang sudah tua dan yang di tuakan untuk mengatur di dalam goah
Goah : kamar untuk menyimpan beras dan makanan lainnya.
Jangjawokan : mantra
Karembong : selendang
Karuhun : leluhur, nenek moyang.
Kasumpingan : kedatangan
Keupat : lenggang
Lalayaran : berlayar
Mubah : mubazir, pekerjaan sia-sia.
Netes : meneteskan air
Ngahaleuang : menyanyi; haleuang, suara orang menyanyi; hahaleuangan, bernyanyi-nyanyi
Ngalungsurkeun : mengundang; lungsur, turun.
Ngibing : menari; ibing, tari
Nginebkeun : menyimpan kembali
Ngiringan : ikut, turut serta
Nyambat, sambat : mengajak, menyuruh datang atau mendekati
Pare : padi
Saehu : ahli, guru
Sinjang : kain panjang atau sarung; bahasa halus dari samping atau sarung
Tukang : orang yang mempunyai keterampilan dalam suatu pekerjaan; orang yang suka atau bisa
Totopong : ikat kepala
Wulung : hitam

0 komentar

Fungsi Tarawangsa

Author: Rian Saepuloh /

Tarawangsa memiliki banyak Fungsi diantaranya:
1. rubuh jerami ampih pare yaitu sewbagai pwenghormatan twerhadap dewi sri.
2. ngaruat rumah baru.
3. sebagai hiburan atau huripan kampong.
4. hajatan
5. upacara adat
6. sambutan terhadap tamu negara
adapun hal-hal sacral yang terjadi dalam proswesi tarawangsa yaitu:
Adanya     v saehu
Mwenggunakan kukus     v
Pangradinan     v
Untuk saehu mwenggunakan minyak, sisir, dupa, salam dan do’a.

0 komentar

Lagu-lagu Tarawangsa

Author: Rian Saepuloh /

Lagu-lagu pada seni tarawangsa terbagi menjadi dua kelompok, yaitu ;

1. Lagu pokok yang terdiri dari lagu pangemat, pangapungan, pamapag, panganginan, panimang, lalayaran, dan bangbalikan.
2. Lagu pilihan yang terdiri dari lagu mataraman, saur, iring-iringan, jemplang, bangun, karatonan, buncis, angin-angin, reundeu, ayun ambing, reundah reundang, kembang gadung, dan panglima.

Bentuk dan makna simbol pada lagu-lagu pokok tarawangsa (dilihat dari judul-judul lagu) adalah sebagai berikut:
a. Pangemat, berasal dari kata ngemat yang artinya memanggil, dalam hal ini yaitu menggambarkan pemanggilan Dewi Sri untuk datang ke tempat upacara berlangsung.
b. Panimang, berasal dari kata nimang yang artinya mengayun-ayun hal tersebut melukiskan Dewi Sri sedang ditimang-timang.
c. Pamapag, berasal dari kata papag yang berarti jemput, hal tersebut menggambarkan penjemputan datangnya Dewi Sri.
d. Pangapungan, berasal dari kata ngapung yang berarti terbang, hal ini menggambarkan Dewi Sri sedang terbang.
e. Panganginan, berasal dari kata ngangin yang berarti istirahat, yang menggambarkan jika Dewi Sri sedang beristirahat.
f. Lalayaran, berasal dari kata lalayar yang artinya tamasya yang menggambarkan Dewi Sri sedang bertamasya.
g. Bangbalikan, berasal dari kata balik yang berarti pulang hal tersebut menggambarkan proses mengantarkan pulangnya Dewi Sri ke dalam ruangan penyimpanan.

Urutan upacara berdasarkan iringan lagu :
Setelah alat-alat persiapan dan sesajen tersedia, maka upacara pun dimulai dari jam 19.30 wib (setelah shalat Isya). Sesepuh duduk bersila menghadapi parupuyan dan alat-alat perlengkapan sambil membagikan-bagikan kemenyan kepada sesepuh lainnya agar dimantrai. Kemudian kemenyan-kemenyan tersebut dipungut kembali, lalu dibakarnya disertai mantra-mantra dengan maksud bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Rasul-Nya. Demikian pula kepada para leluhurnya.
Di bawah ini adalah urutan penyajian lagu tarawangsa dalam mengiringi upacara:
1. Upacara diawali dengan penyajian lagu pangemat, sebagai lagu pengundang Dewi Sri agar segera datang di tempat tersebut.
2. Disusul oleh lagu panimang untuk mengiringi acara ngalungsurkeun yaitu menurunkan seikat padi sebagai lambang Dewi Sri.
3. Lagu pamapag digunakan saat prosesi penjemputan Dewi Sri oleh sesepuh sambil membawa pakaian dan aksesoris lainnya yang akan dikenakan kepada padi tersebut.
4. Dibelakangnya diikuti oleh ibu-ibu yang membawa bunga-bungaan, minyak kelapa, daun hanjuang dan mangkuk berisi beras dengan tektek di atasnya yang diiringi lagu pangapungan.
5. Sesudah itu padi disawer yang diiringi lagu panganginan.
6. Upacara kemudian dilanjutkan dengan acara bersukaria yaitu menari bersama yang pimpin oleh seorang saehu berpakaian lengkap (jas hitam, berkain batik, iket), di pinggangnya terlihat sebilah keris yang dililiti dengan karembong atau sampur. Diikuti oleh penari pria yang disusul oleh penari wanita yang berpakaian kebaya dalam lagu lalayaran.
7. Lagu bangbalikan mengiringi prosesi terakhir yaitu nginebkeun atau netepkeun yaitu menyimpan padi yang dihias tadi ke dalam ruangan penyimpanan. Ini menggambarkan bahwa Dewi Sri akan menetap di sana.
Musik tarawangsa dimainkan secara instrumental dalam tangga nada atau laras pelog dan salendro. Dalam penyajiannya, alat musik tarawangsa berfungsi sebagai pembawa lagu atau melodi, sedangkan alat musik kacapi berfungsi sebagai pengiring lagu.

0 komentar

Benda-benda Yang Di Pakai Sebagai Ciri Saehu dan Paibuan

Author: Rian Saepuloh /

Kalau tidak ada sesuatu hal yang membedakan antara pemimpin dan masyarakat, maka orang setiap orang dalam masyarakat akan merasa sama. Akan tetapi, ketika seorang pemimpin memiliki ciri khas baik dari pakaian ataupun properti yang digunakannya maka sudah barang tentu ada perbedan dengan anggotanya. Seperti telah diungkapkan oleh Burke mengenai teori pembentukan identitas.
Dalam pergelaran Tarawangsa sebagai upacara hormatan ada yang dijadikan pemimpin untuk melaksanakan rangkaian upacara hormatan tersebut yang disebut Saehu untuk pemimpin penari laki-laki dan Paibuan untuk pemimpin penari perempuan. Kita dapat membedakan antara Saehu dan Paibuan dengan penari yang lainnya/tamu ketika menari yakni dari benda yang digunakan. Pada saat menari Saehu menggunakan;
a. Ikat kepala (dalam bahasa sunda totopong)

Gambar 18
Totopong (ikat kepala
b. Kain matra kusumah (sinjang rereng)

Gambar 19
Sinjang Rereng

c. Keris.

Gambar 20
Keris

Sedangkan untuk Paibuan menggunakan:
a. Renda berwarna putih

Gambar 21
Renda

b. Sisir dan Gelang

Gambar 22
Gelang dan Sisir
Sisir digunakan oleh Paibuan yang tidak berjilbab, tetapi jika Paibuannya berjilbab sisir yang disediakan tidak dipakai juga tidak apa-apa.
Benda-benda yang dipakai oleh Paibuan pada saat nema paibuan dapat dipindahkan kepada orang yang sudah kedatangan roh nenek moyang (dalam bahasa sunda kasumpingan). Berdasakan keterangan yang diperoleh dari informan ketika seseorang sudah kedatangan (kasumpingan) maka akan kelihatan dari gerak yang dibawakan akan kelihatan sangat diresapi dan juru saksi (dalam bahasa sunda tukang ngukus) yang dapat melihat apakah seseorang kasumpingan benar-benar atau hanya pura-pura.
Benda yang dipakai sebagai tanda menyerahkan giliran menari dari laki-laki kepada perempuan yaitu selendang berwarna putih, hijau, dan merah.

Gambar 23
Selendang (karembong)
Selendang tersebut merupakan gambaran dari manusia, dimana selendang warna putih menggambarkan manusia yang baru lahir, masih suci belum punya dosa. Kemudian warna hijau menggambarkan manusia yang menginjak dewasa, dan warna merah menggambarkan manusia yang sudah berlumur dosa. Dalam pergelaran Tarawangsa orang yang menari pertama akan memakai selendang warna putih, kemudian setelah mulai dapat merasakan tempo, irama dan menghayati musik dan gerak maka ditambah dengan selendang berwarna hijau, apabila sudah mencapai puncak atau sudah kasumpingan (kedatangan roh) maka ditambah lagi dengan selendang berwarna merah. Apabila sudah tidak tertahan lagi atau sudah kelihatan tidak karuan geraknya maka dinetralkan lagi dengan selendang wulung sehingga penari kembali tenang, seperti halnya keris selendang wulung juga diyakini memiliki kekuatan untuk memberikan ketenangan.
Gambar 24
Karembong Wulung

Dampak sosial yang timbul dari pelaksanaan pergelaran Tarawangsa pada upacara hormatan merupakan cerminan hidup yang harus tetap dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya, karena sangat mengandung nilai sosial yang tinggi, salah satunya nilai gotong-royong.
0 komentar

Urutan tata upacara dalam pergelaran Tarawangsa dalam upacara hormatan

Author: Rian Saepuloh /

Prosesi dimulai dari jam 21.oo sampai 03.oo dini hari..
Prosesi diawali dengan:
a. Ngalungsurkeun (mengeluarkan bibit padi)
Ngalungsurkeun memiliki makna menurunkan keberkahan, yakni dengan mengelurkan bibit padi (pare bungsu) dari goah Kemudian disimpan dekat sesajen dengan tujuan supaya bisa dapat berkah dari hadirnya Dewi Sri serta arwah-arwah para leluhur (karuhun). Acara ini dipimpin oleh Saehu dan Paibuan yang diikuti oleh tamu perempuan yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah tempat bibit padi yang tersedia di pajemuhan/goah. Bibit padi yang dikeluarkan itu adalah milik para tamu yang menyimpan (ngiringan) dalam tempat kecil seperti rantang atau juga ada tempat yang dinamakan pipiti dengan tujuan agar bibit padinya mendapat do’a dari semua yang hadir sehingga bisa mendapatkan berkah bibit padi yang bagus juga karena menurut kepercayaan mereka Dewi Sri (Dewi Padi) dan para leluhur (karuhun) akan hadir.
Laki-laki yang ikut dalam acara ini hanya Saehu saja yang membawa anggoan (pakaian) yang punya rumah (rurukan). Seperti terlihat pada gambar 07, seorang laki-laki (Saehu) membawa nampan yang berisi pakaian yang punya rumah (rurukan).

Gambar 07
Saehu dan Paibuan memimpin acara Ngalungsurkeun

Gambar 08
Salah seorang kasepuhan sedang menyimpan benih padi dekat sesajen
b. Netes
Acara ini dilakukan oleh seorang ibu (canoli). Kegiatan yang dilakukan yakni meneteskan air dengan daun sirih kedalam setiap tempat bibit padi sambil bernyanyi (dalam bahasa sunda ngahaleuang) yang berisi do’a dan harapan agar bibit padi yang kelak akan ditanam dapat membuahkan hasil yang baik. Menurut keterangan biasanya do’a tersebut berbentuk mantra (jangjawokan) dengan memiliki keyakinan “Dewata Maring Manusa, Manusa Maring Dewata” yang artinya bahwa dalam kehidupan kita tidak akan lepas dari pengaruh-pengaruh roh leluhur atau arwah-arwah yang dikeramatkan (karuhun), kalau kita berdekatan saling menghargai.

Gambar 09
Salah seorang kasepuhan (canoli) sedang berdoa sebelum netes

Gambar 10
Kasepuhan (canoli) sedang netes

c. Nema Paibuan
Pada nema paibuan ini ada lima orang penari perempuan yakni Paibuan, yang punya rumah, dan tiga orang penari dari grup Tarawangsa.
Nema sendiri artinya bertemu, disini yang pertama menari adalah Paibuan dengan lagu saur atau sering disebut saur pangembat dengan maksud memberikan pengumuman (bewara) kepada tamu yang hadir bahwa akan kedatangan Dewi Sri yang datang dengan berlayar yang digambarkan dengan lagu lalayaran kemudian diikuti oleh penari yang lainnya saling bergantian, sampai selesai yang lima orang tadi.

Gambar 11
Memindahkan benda-benda sebagai ciri Paibuan kepada penari lain yang sudah kasumpingan.

d. Hiburan Perempuan dan Hiburan
Laki-laki
Pada acara ini semua tamu yang hadir pada pergelaran Tarawangsa dipersilahkan untuk menari (dalam bahasa sunda ngibing), semua tamu mendapat hak untuk menari. Acara hiburan diawali oleh Paibuan bersama yang tamu yang lain yang jumlahnya harus ganjil bisa lima orang, tujuh orang, atau sembilan orang dilanjutkan para tamu perempuan (ibu-ibu) sampai sekitar tengah malam. Kemudian Paibuan menyerahkan selendang kepada Saehu sebagai tanda mempersilahkan kaum laki-laki (bapa-bapa) untuk menari. Seperti halnya tamu perempuan, semua tamu laki-lakipun mendapatkan hak yang sama untuk mendapat giliran menari asal tempatnya tidak telalu penuh, jadi bergiliran.

Gambar 12
Tamu perempuan yang hadir sedang menari

e. Nyumpingkeun (pohaci/icikibung)

Kegiatan ini diawali oleh Paibuan dengan menari sambil memanggil (nyambat) Dewi Sri dan arwah para leluhur (karuhun) dengan kalimat seperti berikut: “mangga nyi prapohaci enggal gera ngaluuh, disuhunkeun enggal sumping” kalimat tersebut bukan suatu kalimat yang baku harus diucapkan oleh Paibuan ketika nyambat, tetapi kalimat ungkapan sendiri. Jadi setiap Paibuan akan berbeda-beda saat nyambat, bahkan dari seorang paibuan saja dari satu tempat ke tempat lain akan berbeda pula yang diucapkannya. Setelah nyambat selesai, Paibuan menari yang kemudian diikuti oleh tamu perempuan. Berdasakan keterangan yang diperoleh dari informan yang biasa menjadi Paibuan ketika mereka sudah kasumpingan akan merasakan bahwa dia menjadi sosok karuhun yang datang. Siapa yang datang nanti akan tercermin dalam gerakan, ada yang gagah berarti yang datangnya karuhun laki-laki, kalau bergeraknya mengalun, halus, yang datang berarti perempuan. Pada acara nyumpingkeun ini arwah leluhur yang dipanggil biasanya dari leluhur keluarga yang punya hajat, dan datangnya (sumping) harus kepada yang punya rumah (rurukan). Kalau tidak datang (sumping) kepada yang punya rumah mereka menganggap acara yang diselenggarakan oleh rurukan itu kurang bermanfaat (ungkapan informan mubah). Ketika rurukan sudah kasumpingan maka penari yang lainnya mengelilingi rurukan, kalau tidak dikelilingi bisa saja sampai jatuh karena badan yang kasumpingan akan terasa lemas (keterangan dari ibu Ayo). Untuk membantu agar tetap kuat dihadirkan keris yang mereka yakini secara magis dapat memberikan kekuatan kepada yang kasumpingan.
Kejadian tersebut memang kalau secara logis tidak akan dimengerti, akan tetapi peneliti memiliki pandangan bahwa ketika dalam nyumpingkeun itu sebenarnya hanya sugesti dari penari saja yang sedang membayangkan atau ingat kepada para leluhurnya, dengan iringan musik yang mengalun bergerak mengikuti alunan, sehingga mereka membayangkan para leluhur (karuhun) mereka sedang ikut pula menari.
Sukses atau tidaknya sebuah pergelaran Tarawangsa dalam acara hormatan dilihat dari banyak atau tidaknya yang kesurupan juga pada acara nyumpingkeun apakah ada karuhun yang datang atau tidak, keyakinan seperti itu sekarang sudah mulai diabaikan, karena pola pikir masyarakat pendukung kesenian tersebut sudah berkembang, sehingga sukses dan tidaknya sebuah pergelaran Tarawangsa pada upacara hormatan itu ditentukan dengan banyak atau sedikitnya tamu yang hadir. Akan tetapi walaupun pandangan berbeda tetap tidak akan mengurangi nilai kesakralan pada upacara hormatan.

Gambar 13
Acara nyumpingkeun
Rurukan (yang punya rumah) sudah mulai kasumpingan.

Gambar 14
Keris yang dihadirkan agar yang kasumpingan tetap kuat.

Gambar 15
Yang punya rumah (rurukan)
Sudah kuat untuk menari lagi

f. Nginebkeun (menyimpan kembali bibit padi)

Nginebkeun mempunyai makna menempatkan Dewi Sri pada tempatnya dengan acara menyimpan kembali bibit padi yang tadi dikeluarkan selama upacara hormatan dilaksanakan kembali ke ruangan tempat penyipanan
padi (pajemuhan/goah). Kegiatan ini merupakan acara terakhir dalam urutan upacara hormatan, dan dilakukan menjelang adzan subuh

Gambar 16
Ibu-ibu sedang mengembalikan bibit padi ke tempatnya lagi (goah/pajemuhan)

GambGambar 17
Saehu dan Paibuan mengatur acara nginebkeun

0 komentar

Syarat Menjadi Saehu dan Paibuan

Author: Rian Saepuloh /

Untuk menjadi seorang pemimpin tentunya syarat yang paling utama yakni harus dikenal dulu oleh anggotanya setelah dikenal kemudian aktif dalam kegiatan yang diadakan oleh lingkungan sekitar. Sebagai contoh dalam kehidupan bermasyarakat ada seorang pemimpin yang disebut dengan Kepala Desa atau Kuwu yang membawahi sebuah Desa. Pemilihan Kuwu diadakan dengan pemilihan secara langsung oleh masyarakat. Secara logika, masyarakat belum tentu memilih seorang pemimpin apabila mereka sendiri tidak kenal dengan calon yang akan dipilih.
Seseorang dapat dipercaya menjadi Saehu ataupun Paibuan karena dalam setiap pergelaran Tarawangsa yang diadakan di lingkungannya selalu hadir sehingga lama-kelamaan akan tahu tata cara dan urutan dalam pelaksanaan upacara ritual, kemudian anggota masyarakat yang lainnya memberikan kepercayaan.
Menjadi Saehu dan Paibuan bisa dijadikan jaminan akan menjadi tokoh di masyarakat, ukuran kepemimpinan di Rancakalong pada umumnya bagaimana dia menjadi Saehu atau Paibuan walaupun tidak secara otomatis. Seseorang dapat menjadi Saehu Atau Paibuan apabila : Faham urutan acara, pelaku dalam pergelaran, diturut oleh yang lain, tidak baku posisinya. Walaupun bukan merupakan syarat yang khusus, akan tetapi secara umum untuk menjadi Saehu dan Paibuan minimal memiliki kriteria seperti di atas. Menurut keterangan yang diperoleh dari informan, pernah dalam suatu pemilihan kepala Desa di salah satu Desa di kecamatan Rancakalong yang menjadi calonnya adalah seorang tokoh yang dalam pergelaran Tarawangsa dipercaya sebagai Saehu.
Dari fenomena tersebut peneliti berasumsi bahwa pada masyarakat Rancakalong kalau seseorang sudah mendapat kepercayaan dari anggota masyarakat pendukung kesenian lainnya, maka akan dipercaya pula pada lingkungan sosial masyarakat dan kepercayaan tersebut akan tetap dipegang oleh masyarakat sampai muncul lagi tokoh baru yang dipercaya oleh masyarakat pada generasi selanjutnya.
Jabatan yang dipegang oleh Saehu dan Paibuan hanya merupakan jabatan yang bersifat sementara yakni menjadi pemimpin hanya pada saat upacara berlangsung. Setelah acara selesai, maka selesai pula Saehu dan Paibuan menjadi pemimpin. Bukan pula jabatan yang turun-temurun, seperti halnya kepemimpinan dalam sebuah kerajaan.
Pada setiap pergelaran Tarawangsa, yang menjadi Saehu dan Paibuan tidak akan sama karena pada setiap daerah akan memiliki beberapa orang yang biasa menjadi Saehu ataupun Paibuan. Akan tetapi keputusan siapa yang akan menjadi Saehu dan Paibuan pada sebuah pergelaran Tarawangsa terletak pada kepercayaan yang punya rumah (rurukan). Rurukan biasanya mempercayakan untuk menjadi Saehu dan Paibuan kepada orang yang masih ada hubungan saudara/kerabat dengan Rurukan. kalau saudara tidak ada yang biasa menjadi Saehu atau Paibuan, maka rurukan akan memilih orang yang lebih dikenal dekat oleh rurukan, jadi tidak sembarangan rurukan mempercayai seseorang untuk menjadi Saehu dan Paibuan.
Orang yang menjadi Saehu dan Paibuan biasanya berumur antara 40 sampai 50 tahunan, hal itu bukan suatu keharusan tetapi memang kebiasaannya seperti itu. Dengan alasan kalau orang yang sudah tua sudah sering mengikuti pergelaran Tarawangsa sehingga sedikitnya sudah sering pula mengikuti atau menyaksikan tata urutan dalam pelaksanaan upacara hormatan terhadap Dewi Sri. Sebenarnya kalau ada yang sudah mampu dan siap untuk menjadi Saehu ataupun Paibuan pada umur 30 tahunan tidak apa-apa asalkan memang benar-benar siap dan juga sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat pendukungnya atau minimal di keluarga dan lingkungan sekitar tempat tinggalnya, hanya sampai saat ini baik Saehu ataupun Paibuan belum ada yang berumur dibawah 40 tahunan.

0 komentar

Tugas Pemimpin Tarawangsa (Saehu & Paibuan)

Author: Rian Saepuloh /

Seperti telah dijelaskan pada bab-bab terdahulu, bahwa dalam suatu pergelaran Tarawangsa yang diselenggarakan sebagai upacara hormatan selalu ada Saehu dan Paibuan. Perlu di garis bawahi, betapa pentingnya peranan Saehu dan Paibuan pada pergelaran Tarawangsa sebagai upacara hormatan kepada Dewi Sri serta arwah-arwah leluhur (karuhun) karena berdasarkan keterangan yang diperoleh dari informan bahwa seorang Saehu dan Paibuan adalah sebagai penggerak, pengatur, pengarah, dan promotor dalam pergelaran Tarawangsa, sehingga pada akhirnya dapat dilihat hasil kerja dari Saehu dan Paibuan dengan sukses atau tidaknya suatu pergelaran Tarawangsa.
Sukses atau tidaknya sebuah pergelaran Tarawangsa pada awalnya ditentukan oleh banyak tidaknya orang yang kesurupan (kasumpingan). Tetapi sekarang telah mengalami perubahan salah satunya diakibatkan oleh keadaan zaman yang senantiasa dinamis, hal-hal yang berbau mistik seperti itu sudah mulai dihilangkan dan lebih dimaknai secara logis seperti sesajen yang pada awalnya diyakini oleh masyarakat sebagai persembahan untuk Dewi Sri dan para leluhur (karuhun), akan tetapi kalu di telaah lagi sesajen itu merupakan salah satu ungkapan rasa syukur yang punya rumah/yang punya hajat dari hasil kebun, ladang, sawah dan hasil ternak, sehingga pada saat acara hormatan dipergelarkan hasil-hasil bumi tersebut diperlihatkan kepada para tamu yang datang walaupun hanya sedikit-sedikit. Sesajen itu juga merupakan sebuah simbol, bahwa dalam kehidupan kita tidak hanya membutuhkan padi saja tetapi juga yang lainnya. Setelah pergelaran Tarawangsa selesai, sesajen yang tadi disajikan diberikan kepada pemain musik Tarawangsa.
Dengan semakin meningkatnya pendidikan masyarakat sehingga akan mempengaruhi pola pikir masyarakatnya, sekarang orang sudah bisa merubah keyakinan mengenai sukses tidaknya sebuah pergelaran tidak lagi ditentukan oleh banyak tidaknya orang yang kesurupan, tetapi sebuah pergelaran dikatakan sukses apabila banyak tamu yang hadir baik dari sekitar lingkungan tempat diadakannya pergelaran Tarawangsa ataupun dari masyarakat luar lingkungan ataupun luar daerah yang ingin menyaksikan pergelaran tersebut.
Saehu dan Paibuan hanya ada ketika Tarawangsa di pergelarkan sebagai upacara hormatan kepada Dewi Sri dan Upacara-upacara lainnya yang berbungan dengan siklus kehidupan manusia seperti kelahiran, khitanan, pernikahan dan lain sebagainya. Ketika Tarawangsa dipergelarkan hanya dalam bentuk instrumental ataupun untuk kebutuhan pengiring tari yang bukan untuk kebutuhan upacara ritual tidak perlu ada Saehu dan Paibuan.
Baik Saehu maupun Paibuan merupakan orang yang pertama menari pada saat pergelaran Tarawangsa. Biasanya diawali dengan Angkenan, dimana Saehu ataupun Paibuan melakukan pemanggilan terhadap Dewi Sri serta para leluhur (karuhun) untuk hadir pada acara tersebut yang digambarkan dengan gerak seperti sembahan yang dilakukan ke empat arah (madhab) yakni arah timur, selatan, barat, dan utara karena menurut keyakinan mereka tidak tahu Dewi Sri dan para leluhur (karuhun) sedang ada dimana makanya dipanggilah ke setiap arah. Gerak pokok pada Saehu yakni gerak badaya, berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Cucu. S tanggal 19 April 2007 yang dimaksud gerak badaya disini yakni gerak pembuka. Sedangkan gerak pokok Paibuan yakni keupat eundang sebagai gerak pembuka juga. Dalam buku karangan direktori seni pertunjukan tradisional diungkapkan bahwa.
Badaya Rancakalong, ditarikan secara tunggal oleh seorang laki-laki yang disebut pangramaan (penari badaya) selama + menit. Sebelum menari, pangramaan duduk menghadap sesajen yang terdiri dari seperangkat pakaian lengkap Dewi Sri, tumpeng dan perlengkapan lainnya sambil membaca mantera lalu menyembah ke empat madhab. Tari ini merupakan penghormatan kepada Dewi Sri (1999:28).
Akan tetapi berdasarkan keterangan hasil wawancara di atas tadi disebutkan bahwa gerak badaya yang dibawakan oleh Saehu yakni berdiri seperti pada gambar 03 di bawah ini,

Gambar 03
Saehu sedang gerak Badaya

Saat duduk Saehu hanya membacakan do’a saja seperti tampak pada gambar 03.

Gambar 04
Saehu berdo’a sebelum menari

Sedangkan Paibuan melakukan gerak badaya sambil duduk seperti tampak pada gambar 04.

Gambar 05
Paibuan melakukan sembahan ke berbagai arah

Setelah peneliti menyaksikan pergelaran Tarawangsa di beberapa tempat yang berbeda, peneliti berasumsi ketika Saehu melakukan gerak badaya ada yang sambil duduk, ada pula yang sambil berdiri. Tetapi untuk Paibuan pada umumnya sama yakni sambil duduk. Walaupun ada perbedaan tata cara, akan tetapi masyarakat akan saling menerima perbedaan tersebut asal tidak mengurangi nilai-nilai kesakralan dalam upacara hormatan yang dilaksanakan.
Istilah gerak yang khas untuk Paibuan disebut keupat eundang, geraknya memang keupat sambil mengayunkan tangan tapi ditempat, dapat dilihat pada gambar 05.

Gambar 06
Paibuan bergerak keupat eundang
(Foto: Dewi Yulianti, 2006)

Tugas Saehu danPaibuan Pada Upacara Hormatan Dewi Sri
Di atas telah dipaparkan, bahwa peranan Saehu dan Paibuan itu sangatlah penting. Saehu dan Paibuan berfungsi sebagai penggerak, pengatur, penuntun dan pemimpin ketika Tarawangsa dipergelarkan sebagai upacara hormatan. Akan tetapi jika Tarawangsa dipergelarkan hanya secara instrumental maka tidak perlu ada Saehu dan Paibuan karena tidak ada urutan acara yang harus dilaksanakan.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, Tugas Saehu dan Paibuan dalam perglaran Tarawangsa yakni memeriksa sesajen yang disiapkan yang berupa segala sesuatu yang dihasilkan oleh manusia dari hasil pertanian, peternakan, juga segala sesuatu yang biasa di konsumsi oleh manusia untuk mempertahankan hidupnya.

1 komentar

Posting Lama

Langgan: Entri (Atom)

 


Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

Katagori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: